Latest Games :
Home » » " Dia Tlah Pergi"

" Dia Tlah Pergi"

Kamis, 14 Maret 2013 | 1komentar


_ DIA TLAH PERGI _


Namaku Risya, aku masih sekolah dan sekarang aku kelas 3 SMK. Hari itu aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, seperti biasanya aku berangkat sendiri dan menunggu angkutan umum yang lewat di depan sekolah SD di Desaku. Tepat jam 06.30 pagi aku sampai di sekolah, dan seperti biasanya ku jalani hari-hariku di sekolah dengan sahabat-sahabatku. “ Saatnya pulang … yeachhhhhh !!!!”. Kataku dengan nada sedikit lega karena aku bisa terlepas dari guru yang super killer itu. Jam menunjukkan pukul 13.30 semua siswa berhamburan keluar dari kelas masing-masing. “ Mbak,,, Mbak,,, mba Risya tungguin dong !”. Terdengar suara memanggilku dan ternyata itu sepupuku Ela. “ Ada apa la ?”. Kataku dengan nada sedikit kesal. “ Pulang bareng Yukkk !!! “. Katanya. Dengan perasaan agak sedikit jengkel akhirnya aku mengiyakan permintaanya. Setelah sampai di jalan tiba-tiba HP ku bunyi. “ Angkat tuch mbak,,,, “. Ya bawel dasar anak bawel. Ku angkat telephonya ternyata dari saudaraku yang ada di Jakarta. Setelah asyik berbincang-bincang akhirnya saudaraku mengenalkanku dengan pacarnya di telephone. “ Hai…. “ . Hay juga jawabku untuknya. Dia memperkenalkan namanya dan dia bernama Bian begitu juga aku. Dari perkenalan singkat itu akhirnya aku akrab denganya. Kami juga sering telpone-telponan. “ Sya, kamu mau nggak aku kenalin dengan temanku “. Kata Bian dengan sedikit berharap kepadaku. “Apa kenalin,,, ya kalu orangnya enak boleh dech !”. Jawabku dengan nada sedikit bercanda. Tak selang beberapa menit ada nomor baru sms ke HP ku. Aku tanya siapa dia ternyata dia adalah teman dari Bian. Setelah kenalan kita saling sharing dan bercanda hanya sekedar untuk melepas lelah. “ Sya, Kamu mau ngga jadi pacarku ?”. Tanya Aldo kepadaku. “ Apa,, pacar ???”. Kataku dengan sedikit kaget. “Iya kamu mau nggak jadi pacar aku “.  Tanya Aldo lagi kepadaku. Setelah kata-kata itu terlontar dari mulut Aldo aku mereasa sangat kaget, karena selama ini aku belum pernah merasakan apa itu cinta. Dengan nada sedikit gugup aku menjawab, “ Hmm,,, tapi apa kamu mau dengan ku??? Aku tuch jelek dan nggak pantes buak kamu .” namun Aldo hanya tersenyum. “ Aku mau nerima kamu apa adanya kok… biarpun kamu jelek asalkan hatimu baik”. Jawab Aldo meyakinkanku. Karena kata-kata dia yang kurasa bisa diterima oleh akal fikiranku akhirnya aku mau menerimanya. Namun cintaku hanya sebatas lewat HP karena jarak kita jauh. Walaupun begitu aku selalu setia dengannya. “ Sya??? Aku boleh main ga ke rumahmu ?”. Tanyanya dengan perasaan sedkit ragu. “ Ya bolehlah,,, rumahku itu terbuka untuk siapa saja “. Jawabku dengan nada senang. “ Tapi aku mainya pas lebaran ajah ya ???. Jawab Aldo. Dengan perasaan senang aku terus bercerita tentang aku, teman-temanku dan tentang sekolahku kepadanya. Dia juga sama bercerita tentang dia, keluarga dan para sahabatnya di sekolah.
Pernah dia memintaku menyanyi untukknya. Namun aku jawab aku nggak bisa nyanyi. Namun Aldo terus saja meminta aku untuk bernyanyi untuknya. Karena dia ngotot terpaksa dech aku nyanyi walaupun suaraku agak-agak jelek sedikit. Saat itu aku menyanyikan lagu “Saat Terakhir” dari ST12. Karena lagu itu juga sangat aku suka. “ Sya, suara kamu lumayan bagus yaCh??.” Ejek dia padaku. “ Ya,, bagus ap bagus ?.” Engga beneran dech bagus. Kenapa kamu ga jadi penyanyi ajach “. Tanya Aldo padaku. Sebenarnya dari dulu memang cita-citaku pengen jadi penyani, namun karena situasi yang kurang mendukung ya terpaksa aku buang jauh-jauh mimpi itu. Tetapi Aldo terus memberiku semangat. Memang dia benar-benar malaikat bagiku, dia selalu ada disaat aku sedih dan dia selalu menghiburku walau sebatas lewat HP.


 Hari berganti minggu dan minggu pun berganti bulan. Saat yang aku nanti tlah datang yaitu bisa melihat wajahnya. Namun sayang semua itu hanya mimpi. Aldo tlah pergi untuk selama-lamanya. Dia kecelakaan saat mau menuju ke rumahku. Aku tahu ini semua dari Bian, dia yang mengabariku lewat telephone. “ Sya, sya… ???. Bicara Bian  dengan nada terbata-bata. “ Bi,, ada apa?? Kok kayaknya kamu sedang nangis sambil ketakutan gitu?”. Tanyaku kepada Bian. “ Aldo, Aldo !!!”. jawab Bian dengan nada yang sama. “Aldo kenapa Bi???”. Tanyaku dengan nada yang tak sabar dan dengan sedikit takut. “ Aldo,,, sudah pergi Sya !!.” Pergi gimana maksud kamu Bi”. Dia kecelakaan saat mau ke rumahmu”. Jawab Aldo meyakinkanku. Namun aku masih tak percaya karena barusan Aldo masih menelephonku. Tanpa kusadari aku jatuh lemas kelantai dan tak sadarkan diri. Setelah terbangun aku merasa sangat menyesal. Andaikan saja Aldo nggak datang ke rumahku mungkin kejadianya tak akan seperti ini. Mungkin sampai sekarang dia masih ada. Lagu yang aku nyanyikan untuknya menjadi kenyataan pahit untukku. Ternyata ini adalah saat terakhir aku bisa mendengar suara dia. 


Kini Dia tlah pergi untuk selama-lamanya. Dan aku tak akan pernah bisa melihat wajahnya. Hari-hariku begitu hampa dan sepi tanpa suara, canda dan tawanya lagi. Lebaran tinggal 1 hari lagi namun aku masih menanti dia datang menemuiku. Namun aku harus menerima kenyataan pahit bahwa Aldo sudah tiada dan dia tak akan pernah kembali ke dunia ini lagi. Lebaran tlah berlalu aku mulai bisa menerima semua kenyataan ini. Aku sudah sedikit-sedikit melupakan kejadian pahit itu, kini aku mencoba bangkit dari kenyataan aku mulai menata hidup baru. Karena aku tidak mau terus-menerus ada dalam kesedihan ini, aku juga harus menatap masa depan aku harus tetap sekolah. Aku harus bisa membuat kedua orang tuaku bahagia. Karena aku yakin dia tersenyum di atas sana untukku. Dan aku yakin dia juga bahagia melihatku tersenyum untuknya.
Share this article :

1 komentar:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Hanya Di Sini™ - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger