Latest Games :
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Mantan Sang Aktivis Jempolan

Selasa, 09 Juli 2013 | 0 komentar


Malam larut dalam kancah alam, lelaki itu belum tidur juga. Ia menatap bintang di teras rumah kami, sambil membaca Al-qur’an kecil di tangannya. Aku berusaha duduk di sampingnya, mencoba menemaninya menghabiskan malam.
“Kenapa abang?” tanyaku.
Dia kelihatan gusar. Tak seperti biasanya, ia tenang-tenang saja.
“Cuma lagi mikirin sesuatu dik.”
“Tidak mau cerita? Ya sudah tak apa.”
“Takutnya kalau cerita nanti adik marah sama abang. Cemburu lagi.”
“Ya sudah, jika begitu.”

Enam bulan yang lalu, aku meminta laki-laki yang sekarang keliatan gusar itu untuk melamarku. Sekarang statusnya adalah suamiku, meski ketika kuliah dulu dan sama-sama aktif di S3 (Sanggar Seni Seulaweuet) serta satu jurusan, aku pernah menyukainya. Ya, sangat suka dan sangat cemburu saat ia dekat dengan Syifa teman satu kelasku.
“Kenapa sih bang?”
“Sebenarnya, abang sudah berusaha melupakannya dan memperbaiki diri, tapi pertemuan tanpa sengaja tadi menyatakan abang belum bisa melupakan ia.”
“Siapa?” tanya ku kesal.
“Tolong jangan marah dulu. Abang tahu, abang bukan yang terbaik buat adik, tapi Abang sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik. Abang juga manusia dik.”
“Tidak ada yang bilang abang malaikat kan? Siapa sih? Syifa ya?”
Siapa yang tidak kenal Syifa. Aktivis jempolan di BEM, juga di S3. Dan ia dekat dengan Bang Noval, yang menjadi suami ku saat ini, adalah mitra  kerjanya selama empat tahun. Dan Aku sangat mengerti empat tahun bukan waktu yang singkat. Semua teman-teman di kelasku mengatakan, mereka solid, cocok, dan punya banyak kepentingan yang sama untuk saling bekerja sama. Kata orang, Syifa orang yang professional, cerdas, gampang bergaul, dan tak ada yang tidak mengenal wanita itu. Dia aktivis jempolan di Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam. Di S3 selalu bereksis ria.
“Adik, apa adik menyesal menikah dengan abang?” tanyanya.
Aku kaget, lamunanku tercecer.
“Tentu tidak. Adik sangat mencintai abang, bahkan jauh sebelum abang dekat dengan Syifa di kampus, ketika adik masih semester II.”
Makasih, abang tau adik memang yang terbaik, seharusnya bukan abang yang sukses mempersunting adik.”
“Abang menyesal menikah dengan adik? Karena adik yang meminta abang untuk melamar adik?”
“Tentu saja tidak dik, tidak, hanya saja…..” Ia menggantung kalimatnya.
“Hanya apa bang?”
“Abang mencintai Syifa.”
“Pergilah padanya, jika memang begitu.”
“Abang tidak akan berpikir sepicik itu. Abang tetap akan bersama adik.”
“Tapi adik tidak mau bang, berada di bawah bayang-bayang Syifa. Jika abang memang menyukainya, kenapa tidak mencoba melamarnya?”
Aku tergugu, mencoba menyembunyikan air mata di balik kedua telapak tanganku. Tapi, bagaimana pun ikhlas adalah solusi untuk orang yang amat kucinta. Aku akan melakukan apa pun demi kebahagiannya meski luka membiru di lembamnya hati.
*****
Satu bulan kemudian, Bang Noval berdebar menanti kabar tentang hasil lamarannya pada Syifa.
“Sudah siap mendengarnya abang?” tanyaku.
“Siap dik. Adik sudah ikhlas?”
“Iya, Bang.” Aku membuka surat yang di berikan Syifa.
Bang Noval diam seribu bahasa.
“Syifa tidak mau menerima keinginan abang.”
Ku lihat, Bang Noval kehilangan diri sesaat.
“Tapi…, kenapa?”
“Ia merasa menjadi penganggu dalam kehidupan kita. Lagi pula, ia sangsi akan cinta yang ia punya sama Abang. Ia menunggu orang yang benar-benar mencintainya dan menunggunya dengan sabar serta ia tidak mau di madu.”
Setetes kurasa air mata Bang Noval menghujam kalbu ku. Ia menangis karena aktivis jempolan itu menolaknya, bukan karena aku yang selalu setia menunggunya bahkan memintanya untuk menjadikan aku pendamping hidupnya, untuk menggenapkan Dien. Menyesalkah ia? Entahlah, dunia terasa gelap untuk ku.

*****
Waktu berjalan sebagaimana mestinya. Aku sedang duduk membaca koran pagi itu, ketika sebuah berita tentang rohingnya terpampang manis di sana.
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla mengungkapkan konflik Rohingnya, Myanmar tidaklah seberat Konflik Poso-Ambon.
“Poso-Ambon lebih berat, masing-masing pegang senjata. Ribuan orang yang tewas. Kalau di Rohingya tidak ada yang pegang senjata. Yang tewas juga 80-an,” ungkap mantan Wakil Presiden ini kepada wartawan saat dihubungi, Jakarta, Kamis (16/8/2012).
Lebih lanjut, JK juga menegaskan bahwa konflik Rohingnya tidaklah konflik antar agama. Melainkan konflik antar dua etnis.

“Adik…” panggil Bang Noval dari dalam rumah.
“Iya…, ada apa abang?” Aku tergopoh-gopoh menghampiri lelaki tinggi kurus itu.
“Tahu apa yang dikatakan Syifa tentang konflik Rohingnya?”
Aku menautkan alis, kemudian mengangkat bahu tanda tidak peduli sama sekali.
“Dunia internasional, khususnya Barat, tidak pernah bersikap adil terhadap umat Islam. Buktinya tak ada satu pun pemimpin negara barat yang mengecam aksi genosida terhadap muslim Rohingnya di Myanmar. Ini menimbulkan ironi. Kenapa dunia internasional diam saja? Coba lihat, ini statusnya di Facebook. Lihat juga komennya, sungguh ramai.” Bang Noval tersenyum sumingrah, membuatku tambah mual mendengar nama Syifa. Kenapa harus ada orang yang seperti dia.

“Negara-negara Barat memiliki standar ganda dalam melihat persoalan HAM. Misalnya mencontohkan, bagaimana kerasnya kecaman Barat (negara Eropa dan Amerika Serikat) ketika pejuang demokrasi Myanmar, Aung San Su Kyi ditahan. Namun ketika di negara yang sama terjadi pemberangusan nyawa umat Islam, dunia Barat diam saja.” cerocos ku sambil berlalu.

Eh…, adik tau juga ya? Wah…” Ia menatapku dengan mata membulat.
“Iya dong. Emang aktivis jempolan kayak Syifa aja yang boleh tahu? Aku juga dong bang. Aku kan muslim!” ujar ku agak gondok plus cemburu, karena Bang Noval terlalu membanggakan Syifa.
“Iya, abang tahu adik juga pinter kok. Lihat lagi dik, ini status Syifa terbaru: Berbicara tentang Muslim Rohingnya di Myanmar alias Burma adalah berbicara tentang kemanusiaan. Agama ketika dijadikan dasar berbangsa dan bernegara hasilnya konflik Bosnia-Serbia. Konflik Maya-Spanyol. Konflik Perang Salib Islam-Kristen. Konflik Hindu-Islam di India. Konflik Katholik-Kristen di Irlandia-Utara. Bentrokan Islam-Kristen di Nigeria. Konflik Romawi-Persia. Itu semuanya adalah konflik dalam sejarah manusia karena keyakinan. Kerenkan?”

Aku diam saja, acuh tak acuh. Lihat saja, akan ku buktikan ke Syifa dan Bang Noval, bahwa aku lebih baik dari aktivis yang di cap jempolan itu.
“Muslim Rohingnya adalah sekelompok manusia terbuang identitasnya. Mereka berbahasa berbeda dengan sebagian bahasa rakyat Myanmar. Status Rohingnya adalah status minoritas tanpa bentuk. Bangladesh tidak mengakui kedekatan mereka sebagai bangsa Bangladesh. Myanmar tidak mengakui mereka sebagai bangsa Myanmar. Kedekatan budaya dan agama dengan Bangladesh, yang mayoritas Islam tidak membuat Bangladesh iba. Dunia internasional diam soal Rohingnya. Sama halnya dunia internasional diam ketika Taliban, di bawah tekanan Osama bin Laden, Mollah Umar menghancurkan patung Budha di Afghanistan. Kabarnya, orang Afghanistan tidak setuju sebenarnya dengan penghancuran patung Budha itu. Dalam keyakinan budaya atau Islam Arab, patung adalah ‘berhala’ yang wajib dihancurkan, pada tanggal 2 Maret 2001. Penggunaan dinamit gagal menghancurkan muka dan badan patung Budha, yang dibangun pada abad ke-5, ratusan tahun sebelum kedatangan Islam. Lalu roket diluncurkan untuk menghancurkan patung Budha itu. Mullah Omar menyatakan, seperti dikutip Wikipedia dari The Times: Muslim harus bangga telah menghancurkan patung-patung berhala itu. Tindakan penghancuran ini diridhoi Allah karena kita telah menghancurkan berhala,” cerocos ku ber hap-hip-hop, meski kurang nyambung dengan apa yang sedang di bahas. Yang penting aku harus bependapat.

“Para Bhikhu yang memainkan peran penting dalam perjuangan terakhir Birma untuk demokrasi, telah dituduh memicu ketegangan etnis di Birma dengan menghimbau orang untuk menghindari komunitas Muslim yang telah menderita puluhan tahun akibat penindasan. Banyak pengamat yang terkejut dengan sikap beberapa organisasi biarawan yang telah mengeluarkan pamflet, memberitahu orang-orang untuk tidak bergaul dengan masyarakat Rohingya. Mereka juga memblokir bantuan kemanusiaan. Salah satu selebaran menggambarkan Rohingya sebagai ”manusia kejam secara alami” dan digambarkan sedang merencanakan untuk “membasmi” kelompok etnis lain. Meningkatnya serangan terhadap Rohingnya, yang digambarkan sebagai kelompok yang paling tertindas di dunia, terjadi beberapa minggu setelah kekerasan etnis di Rakhine State. Dikabarkan, lebih dari 80 orang terbunuh, lebih dari 100 ribu muslim Rohingnya hidup dalam kondisi putus asa.” sambung bang Noval.

Diskusi tentang Rohingya berlangsung seru, hingga Bang Noval menerima telepon tepat jam 9 pagi dan raut mukanya langsung berubah keruh.
“Tidak mungkin…” Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya dan setelah itu berhari-hari kemudian ia tidak pernah berbicara lagi, seolah-olah menjadi bisu.
Selidik punya selidik, ternyata Syifa sudah pergi ke Rohingnya untuk menjadi relawan disana dan tentu saja belum bisa di pastikan ia bakal kembali dengan selamat atau tidak. Dan kurasa setetes air mata Bang Noval. Diamnya ia beberapa hari setelah menerima telepon itu, menumpahkan garam luka di kalbuku. Ia menangis karena aktivis jempolan itu menolaknya dan pergi meninggalkan tanah air untuk berjihat. Lagi-lagi bukan karena aku yang selalu setia menunggunya, bahkan berusaha menjadi seperti yang ia inginkan. Menyesalkah ia menikahiku? Entahlah, kurasa dunia bukan lagi untukku. Semuanya gelap. Laki-laki itu hanya mengenang mantanya, aktivis itu.

Aku sudah melihat air matamu
Di selat sunda
Namun aku membiarkannya terhayut terbawa badai
Air mata itu menjauh hingga ke Hawai
Aku tak bisa melihatnya lagi
Karena ia telah pergi jauh sekali dariku
Sejauh mataku tak sanggup memandang
Membuat lara kian lambay…
di bayangan si aktivis jempolan
Continue Reading

Hal Terindah dalam Hidup

Jumat, 28 Juni 2013 | 0 komentar


Hal terindah dalam hidup ini adalah disaat kita bahagia. Banyak hal yang bisa membuat seseorang itu merasa bahagia, apakah itu karena kenaikan gaji, promosi, atau berkat-berkat lain yang bisa membuat seseorang itu tersenyum dan tertawa. Tapi banyak hal pula yang bisa membuat seseorang itu sedih. Mungkin dikarenakan ditinggal oleh orang terkasih, mengalami kecelakaan, diPHK dan banyak lagi segudang masalah yang bisa membuat seseorang itu murung dan menangis. Itulah hidup, yang harus dijalani oleh setiap umat manusia. Seberat apapun permasalahan yang ia hadapi, tetap harus terus dijalani karena hidup tidak berhenti hanya karena sebuah masalah.

Jika kita amati, dewasa ini banyak orang yang menderita. Apakah itu karena tingginya tingkat kebutuhan hidup secara materi, apakah itu karena adanya isu dan sejumlah permasalahan di Negara saat ini ataukah permasalahan intern dalam masyarakat dan keluarga. Memang masalah tidak akan pernah luput dari kehidupan kita, ia akan selalu ada, berjalan beriiringan dan selalu mengusik ketenangan hidup kita. Pasalnya sekarang, apakah kita bisa menghadapi tiap hal yang mengusik ketentraman hidup kita ini? Tidak setiap orang mampu bertahan dalam setiap masalah yang ia gumuli. Seseorang yang ingin cepat kaya, rela mengambil jalan pintas dengan cara korupsi. Suami yang tidak bekerja, dengan mudah mencuri demi untuk menghidupi keluarganya. Sebuah keluarga harus tinggal terpisah hanya karena masalah ekonomi yang mereka hadapi. Seorang lulusan smu mengorbankan dirinya jatuh dalam “dunia gelap” hanya karena ingin sekedar mendapatkan rupiah. Apakah ini sebenarnya hidup yang merupakan anugerah besar dari Sang Khalik?

Apakah hal-hal demikian dianggap sebagai sebuah kehidupan umat manusia masa kini? Disadari atau tidak emang inilah fakta yang kalau kita perhatikan banyak sekali terjadi dalam masyarakat kita. Begitu banyak manusia di luar sana yang harus menjalani hidup sangat memprihatinkan. Sebagai contoh, keluarga yang harus hidup terpisah. Mereka tidak lagi bisa merasakan kehangatan kumpul bersama keluarga. Anak merindukan perhatian dan cinta kasih orang tua nya yang selama masih bersama dapat ia rasakan setiap waktu, sang istri/suami tidak bisa lagi saling memperhatikan dan berbagi cerita setiap saat. Karena jarak yang terlalu jauh memisahkan mereka. Terkadang sempat terbersit, “sampai kapan kita harus seperti ini? Tidah kah kau ingin melihat anak-anak ini tumbuh?” tidak jarang para istri mengeluh demikian. Dan tidak sedikit pula suami-suami yang berbisik “aku ingin berada didekat anak dan istriku”

Adapula anak yang harus berjauhan dari orang tua karena ingin mengejar cita-cita. Dia sanggup melakukan apasaja asalkan keinginan untuk melanjutkan sekolah terwujud. Dilemma anak-anak jalanan yang harus bekerja siang dan malam,dari menjual Koran, asongan, bahkan mengemis. Keberadaan mereka terkadang mengganggu tetapi ini juga suatu tuntuan hidup buat mereka. Diusia belia, mereka harus bekerja, bermandikan terik matahari dan dinginnya malam. Sepintas tersirat dibenak kita, dimanakah orang tua mereka? Mengapa begitu tega membiarkan anak-anak ini bertungkus lumus siang dan malam?

Apakah ini sudah menjadi jalan hidup mereka? Yah begitulah hidup. Kita dituntut untuk melakukannya, kita dipaksa untuk mengikuti alurnya. Bahkan mau tidak mau, jalan kehidupan itu memang sudah seharusnya dilalui. Tapi apakah kita hanya menyerah begitu saja pada hidup? Tidak adakah jalan lain yang dapat kita lakukan untuk mengubahnya? Tetapi adapula yang berkata” ini sudah takdir saya, jadi mau apalagi yah..harus dijalani”. Hidup manusia berasal dari Yang Maha Kuasa. Kita adalah milikNYA. Apapun yang IA ingin perbuat terhadap kita pasti akan DIA lakukan. Namun, sesungguhnya tidak ada yang buruk yang pernah DIA berikan pada kita,hanya yang terbaik dan selalu yang terbaik. Terkadang kita yang tidak pernah mengerti SANG PENCIPTA. Sebagi contoh, seorang karyawan pada sebuah perusahaan swasta katakanlah sebuah bank, sanggup menggelapkan uang perusahaan hanya karena alasan ingin menjadi orang terpandang dilingkungannya. Padahal semula ia hidup tenang bersama keluarganya disebuah rumah sederhana yang ia beli dari hasil usahanya yang halal. Hanya sekejap saja, buah perbuatan jahatnya dapat ia petik, selanjutnya sisa hidupnya ia habiskan dengan merenungi nasibnya di balik jeruji tahanan sambil bergumam” yah, sudah takdir saya masuk penjara

Dari ilustrasi tersebut dapat dilihat bahwa SANG KUASA tidak pernah mengabaikan kita, DIA tahu mana yang terbaik untuk kita. Tapi tetap saja manusia ciptaanNYA menghujat DIA bila problema mendekat. Tidak adakah kata-kata manis yang seharusnya kita panjatkan kepadaNYA selain daripada hujatan dan caci maki atas setiap penderitaan yang kita alami, yang sudah jelas kitalah pelaku untuk setiap derita yang ada pada kita saat ini?

Maka jalanilah hidup ini dengan apa adanya, apa yang kita miliki yang merupakan pemberian dari Sang Pencipta. Tidak perlu terlalu mengejar hal yang sifatnya sementara, karena hanya sesaat kita menikmatinya. Materi yang kita miliki saat ini merupakan pinjaman dari Sang Pemberi. Untuk apa terlalu mencintai sesuatu yang tidak memiliki nilai keabadian yang absolute. Carilah kasih dan damai sejahtera dalam hidup, kelak apa pun yang kita perbuat akan senantiasa terberkati dan berkat itu pasti akan selalu tercurah tanpa kita minta. Sesuatu yang sudah Tuhan rencanakan akan terjadi untuk kita, kelak akan terlaksana. Tinggal lagi kita harus membekali diri dengan kesabaran ekstra untuk menunggu waktuNYA tiba. Kapan? Kita juga tidak tahu, tidak mampu untuk memprediksikannya. Tidak pula sanggup untuk mengetahui alur cerita yang telah DIA berikan buat kita. Lantas apa yang seharusnya kita lakukan. Apakah hanya menunggu dan menunggu tanpa berbuat sesuatu? Jawabnya tentu tidak. Ibarat seorang nelayan yang sedang melaut ditengah samudra lepas, mengharap kembali dengan perahu penuh ikan, namun tak kunjung melepaskan umpan dan kail.

Bagaimana mungkin ikan-ikan lompat masuk ke dalam perahu sang nelayan kalau tidak ada usaha darinya untuk mengundang ikan-ikan itu masuk perahu. Seperti itu pula lah hidup kita, tanpa usaha apapun yang kita harapkan tidak mungkin akan terwujud. Tuhan menghendaki kita berusaha dalam setiap detik kehidupan kita. Berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, apakah itu pekerjaan, materi, atau seseorang yang kelak akan menjadi pasangan hidup kita atau apapun yang kita inginkan dalam hidup. Agar berbuah sempurna, usaha itu harus pula di iringi doa-doa kecil yang selalu kita panjatkan dalam setiap hembusan nafas yang kita tarik dan hirup. Tak lupa ucapkan syukur. Panjatkan rasa syukur kita pada Sang Pemberi Kehidupan. Katakan padaNYA bahwa sungguh suatu anugerah dan berkat yang begitu besar yang DIA berikan bagi kita setiap hari. Refleksikanlah diri kita setiap hari, pekalah terhadap sekelilingmu.

Lihatlah mereka yang membutuhkan bantuan mu..apakah mereka yang membutuhkan perhatianmu, kasih sayang darimu ataupun sekedar bantuan materi dari mu. Berikanlah apa yang ada padamu pada sesamamu…ikhlaslah dan jangan biarkan hatimu menggerutu dengan pemberian mu itu. Namun, hal terbesar yang dapat kau berikan kepada sesamamu adalah Cinta Kasih. Itu mahal nilainya, tidak dapat dibeli dengan apapun. Perhatikanlah rekan-rekanmu, dan kasihilah mereka senantiasa. Selayaknya kau mengasihi dirimu. Karena tidak ada satu orangpun yang tidak butuh kasih. Kasih itu menyejukkan. Bila amarah ada padamu dikarenakan oleh perbuatan rekan atau pun saudaramu, sejukkanlah hati dan perasaanmu dengan kasih. Jadikanlah kasih penawar dari setiap kebimbangan dan kegalauan hatimu..karena Kasih sejati itu tidak datang dari manusia namun dari Sang Empunya kehidupan. Maka dari itulah, sebagaimana Tuhan mengasihimu, begitu pulalah hendaknya kau perbuat terhadap sesamamu.Hanya Di Sini™



Continue Reading

Kisah nyata hidup seorang kupu-kupu malam

| 0 komentar

CATATAN: 
TULISAN INI MENJADI TULISAN TERAKHIR YANG DITINGGALKAN DAN MENJADI KENANGAN BAGI YANG MENCINTAI DAN MENGENANGNYA SEBAGAI BIDADARI TERAKHIR 



" Karena sekeras apapun aku berpikir tentangmu-hanya ada satu hal yang bisa kupahami bahwa kaulah hal terindah yang pernah kumiliki dalam hidup ini" agnesdavonar
diangkat dari sebuah kisah nyata cinta seorang pria dengan PSK

(info : penulis diminta sendiri loh sama narasumber, jadi kalau di kaskus ada yang sama kisahnya ya karena sumbernya sama :) tapi untuk kepentingan naskah agar mudah dicerna penulis mengubah sedikit saja , selama membaca...)

Malam itu, seharusnya bukan jadi malam milik gua. Malam yang sesungguhnya bukanlah yang gua harapkan. Adit, temen kecil gua. Entah harus bagaimana gua mengatakan? Tiba-tiba ketika habis pulang dari hang out di kafe, mengarahkan motornya ke sebuah tempat yang mungkin baru dalam hidup gua. Tempat pelacuran, ya.. semua juga tau kalau daerah yang sedang gua injakkan kaki ini adalah daerah protistusi. Gua sempat protes sama Adit, kenapa tiba-tiba ngajak gua ke tempat kayak ginian. Umur gua kan masih 17 tahun dan baru aja dapat ktp resmi seumur-umur hidup gua.

Gua gak bisa ngelarang teman gua untuk menyalurkan apa yang dia inginkan walaupun harus dengan cara seperti ini. yang terbaik buat gua adalah tidak ikut dalam permainan dia. Akhirnya kita berdua memarkirkan motor di sebuah rumah. Banyak cewek-cewek cantik yang berdiri sambil menggoda. Adit masuk, dan gua memutuskan untuk tunggu di luar. Sesekali dia nanya ke gua,
“ yakin loe gak mau coba? Gua bayarin deh!”
“ ogah, gua masih tahan iman, loe aja sana! Jangan pakai lama! Entar kalau digrebek polisi, disangka gua lagi yang mau!”
“ iya-iya, anteng aja loe disana.. “
Dengan wajah cemburut dan tatapan beberapa perempuan gua seperti orang bego yang nunggu diluar sambil megangan helm gua. Adit uda memilih cewek yang harus jadi teman dia malam itu. Gua menunggu di luar dan tiba-tiba salah satu cewek di dalam rumah itu keluar sambil menghisap rokok. Dia ngeliat gua, lalu menawarkan rokok kepada gua.
“ Enggak makasih,  gua gak ngerokok “ kata gua menolak dengna harus.
“ Hah, jaman gini masih ada yang gak ngerokok.. aneh..” Tanya cewek itu dan gua hanya senyum-senyum.

Dia duduk disebelah gua, menatap mata gua dengan tajam sambil sesekali membuang asap rokok ke langit-langit atap.
“ Kok nunggu disini, ga ikutan aja sama temen kamu!”
“ Enggak , biarian aja si adit yang pengen,.. Cuma nemenin aja”
“ uda, loe sama gua aja mau? “
Gua memandang cewek disamping gua, sejujurnya dia cewek yang cantik, putih dan idaman gua. Tapi ketika dia menawarkan dirinya ke gua, tiba-tiba gua jadi ilfell. Kenapa cewek secantik ini harus menjadi seorang pelacur, dunia ini memang gak adil.
“ enggak mbak ,makasih”
“ uda maulah, gua kasih diskon.. “ tawar dia lagi.
“ beneran mbak, saya gak mau..” tolak gua dengan halus.
“ apes deh gua, daritadi gak ada yang mau ama gua..”
“ loh mbak kan cantik, kok ga ada yang mau..!”
“ ya nasib lah, namanya juga jualan, kadang laku, kadang kagak, malah gua lagi ada masalah lagi,,.”
Entah mengapa gua jadi merasa ingin tau masalah dia.
“ masalah apa mbak?” Tanya gua
“ umur loe berapa?” Tanya dia ke gua
“ masuk 17 tahun ini,., “
“ yailah, masih brondong, masih belum tau namanya dunia dewasa..” ledek dia.
“ kata siapa.. setiap orang punya masalah, gak mandang gede atau kecil umurnya..”

Dia melihat gua, mungkin dia merasa gua pinter merangkai kata-kata.
“kayanya loe bukan cowok brengsek ya.. beda sama cowok-cowok yang suka kesini Cuma pengen cari cewek buat kesenangan sesaat’
Gua tersenyum manyum dipuji dia.
“ Hehe, ga semua cowok brengsek kok mbak..
“ mungkin aja…  hm.. gua lagi butuh duit..” kata dia tiba-tiba.

Dalam hati gua, mungkin ini masalah klasik. Kalau ga butuh duit, buat apa dia kerja sebagai pelacur.
“ Maaf kalau boleh tau, duit buat apa ya?”
“ nasib jadi orang miskin, selalu kena masalah, nyokap gua tiba-tiba ada benjolan di perut, kemarin sempat dibawah ke puskemas, kata dokter sih tumor ringan.  Mesti cepat-cepat di operasi kata dokter, tapi ya tau sendiri Negara kita, apa-apa butuh duit. Ujung-ujungnya duit buat operasi. Makanya gua lagi sial, semingguan ini jarang dapat pelanggan. Apes..”
Entah mengapa, gua merasa, ada kejujuran dari apa yang cewek ini ngomongin. Dia gak seperti lagi sandiwara.
“ namanya mbak siapa?”
“ panggil gua Eva aja! Loe?”
“ Gua, Rasya.. “
Tiba-tiba kita terdiam, melihat wajahnya yang tampak sedih sehabis cerita kehidupan dia, gua merasa iba dan menawarkan dia setulus hati.
“ kalau eva emang butuh duit, gua ada, tapi gak banyak, kali-kali aja bisa bantuin nutupin kekurangan.”
Dia ngeliat gua.
“ loe kan masih 17tahun, mau dapat duit dari mana 1,5 juta kekurangang gue..”
“ oo, jadi kurangnya 1,5juta. Tenang aja Va, gua ada kok kalau segitu, tapi kalau sekarang.. gua ga bawa duitnya.. kalau besok gimana?”
Dia tertawa kecil.
“ gua sih uda biasa digombalin sama pelanggan. Tapi kalau digombalin berondong sih baru kali ini..” ledek dia.
“ sumpah gua ga bohong, gini aja, nomor hendphone loe berapa? Nanti besok gua telepon dan kasih duitnya, tapi jangan disini ya.. soalnya gua ga nyaman..”
“ terserah mau dimana, neh nomor gue..” kata dia sambil ngasih kertas dengan angka nomor telepon dia.
" inget loe, gua ini bukan orang baik. "
" gua juga bukan orang baik. tapi juga bukan orang jahat, gua dan loe hanya terlahir di dunia yang keduanya gak bisa kita hindari.."

Tiba-tiba adit selesai, dan dia langsung menuju gua. Sebelum adit ngajak gua pergi, gua pamitan sama eva. Dia tersenyum. Dari wajahnya gua tau, dia pasti berharap banget apa yang gua katakan ke dia itu benar. Walau sebenarnya gua sendiri ga punya duit sebanyak yang dia mau.  Duit yang gua punya Cuma ada 900 ribu dan masih kurang 600 ribu buat ngasih ke eva. Akhirnya gua mesti nunggu seminggu hingga terkumpul 1,5 juta. Bermodalkan duit yang sesungguhnya hasil uang jajan gua. Akhirnya gua nelepon dia.  Sebelum memastikan apa eva benar-benar sungguh-sungguh atau bohong, gua sempet survey ke psk sekitar tempat kerja eva dan hasilnya positif dia ga bohong makanya gua usahain duit terkumpul cepat.
Eva terkejut ketika gua nelepon dia, gua meminta janjian ketemu sama dia di kafe yang telah gua tentukan. Seumur-umur dalam hidup gua, baru kali ini gua beramal cukup besar untuk orang lain. Gua masukan duit itu dalam tas gua. Mungkin bonyok gua akan marah besar kalau tau duit jajan gua habis untuk dia. Tapi gua cukup beruntung terlahir dari keluarga yang mampu, jadi gua yakin. Bonyok gak akan tega biarin gua hidup tanpa duit sedikitpun andai gua bilang, gua butuh duit.

***

Eva muncul dengan pakaian yang lebih tertutup kebanding pertama kali gua lihat. Kita makan dan sesekali gua jelaskan kenapa gua baru hubungi dia dengan alasan sibuk ujian, padahal sesungguhya sibuk nabung untuk bantu dia. Eva mungkin gak pernah kepikiran kalau gua ngajak dia ketemu untuk bantu keuangan dia, dia lebih berpikir kalau gua ini ketemu dia sebagai seseorang yang membutuhkan dia seperti laki-laki lainnya.

Kita sempat jalan-jalan sebentar sampai akhirnya motor gua membawa dia ke pantai. Kebetulan mal di kota gua selalu dekat dengan pantai. Gua duduk disamping dia. Dia langsung menyodorkan pertanyaan.
“ sebenarnya , loe manggil gua untuk make gua? Atau temenin loe jalan sih?”
“ coba tebak?” Tanya gua.
“ dua-duanya juga ga masalah, gua uda lama gak jalan sama cowok. Terakhir pacaran juga apes. Dari sekian cowok yang nembak gua, Cuma dia yang gua terima. Ujung-ujungnya cowok emang brengsek. Cuma mau tidur sama gue.. makanya sejak sekarang gua mati rasa sama yang namanya cinta.. !”
“ loh kayaknya loe dendam banget ya sama cowok. Maaf loh kalau lancang, Cuma ngerasa gitu”
“ ngapain minta maaf, emang nasib gua kok. Terlahir sebagai cewek hina, miskin, keluarga berantakan. Lonte..” tiba-tiba eva nangis dengan kalimat terakhir itu.
“ loe nangis..” Tanya gua jadi ikut sedih.
“ lonte.. gua uda sering denger kalimat itu dari mulut orang lain buat gua, rasanya nyakitin banget.  Asal loe tau , kalau aja dunia ini lebih indah dari yang gua mau. Gua juga gak mau jadi lonte..  siapa sih di dunia ini yang mau jadi pelacur, lonte. Ini karena terpaksa. Masih ada adik sama keluarga yang butuh gua untuk bertahan hidup..”
“ eva.. jangan nangis dong. Tujuan gua kesini, Cuma pengen ngasih ini..” kata gua sambil ngasih duit ke dia.
“ gua emang masih berondong seperti yang loe bilang, tapi gua juga punya hati. Walau hidup gua cukup, tapi gua mengerti perasaan loe.. mungkin Tuhan Cuma lagi kasih ujian buat hidup loe. Kalau pun itu berat saat ini, gua harap bantuan dari gua, bisa bantu meringankan beban loe..”
“ loe.. kenapa sih mau bantu gua.. kan gua ini bukan siapa-siapa loe, bukan temen loe.  Bahkan bukan orang yang pantes kenal sama loe..” kata dia sambil menangis.
“ gua juga gak tau. Yang jelas, kita uda ditakdirkan buat jadi orang yang mengenal.. gua senang kok kenal sama loe. Sekarang pakai duit ini buat operasi nyokap loe ya,. Biar cepat sembuh dan loe bisa kerja yang lain.. bukan seperti sekarang..”
Dia terdiam sambil merenung.
“ kalau pun gua gak kerja kayak gini, gua juga uda pasti gak ada yang mau. Palingan laki-laki berengsek yang mau sama gua..”
“ kata siapa gak ada yang mau..”
“ ya kata gua lah.. mana ada sih yang mau sama bekas pelacur!! Bekas lonte…”
“ gua mau..”
Eva terdiam mendengar kalimat gua.
“ umur loe masih muda, belum tau yang namanya cinta.  Ya sudah, terima kasih buat bantuan loe. Kelak kalau gua ada duit. Gua akan balikin duit ini.. sekali lagi, terimakasih”
“ sama-sama eva..”

Selang beberapa hari, eva sempat sms dan memberi kabar ke gua kalau nyokapnya sukses dengan operasi dia. Kita jadi rutin saling sms dan telepon hingga akhirnya dia ngundang gua ke rumah dia untuk bertemu nyokap dia. Gua menerima tawaran dia sekaligus ingin tau apakah benar kalau nyokap dia habis dioperasi. Ketika gua sampai kerumah, nyokapnya berlinang air mata ngucapin terima kasih, gua bersyukur ternyata eva jujur apa adanya. Dan yang paling gua senang, dia bilang ke gua, kalau dia lagi cari kerjaan buat hidup sebagai orang bersih.

Saat itu, tanpa sepengetahuan eva. Bokap tirinya tiba-tiba minjem duit ke gua, dia bilang buat bayar utang. Karena gua gak enak nolak, akhirnya gua kasih duit ke bokapnya tanpa sepentahuan eva. Gua juga sering bantuin ngaterin eva untuk cari kerjaan yang baik. Sampai akhinya dia dapat kerjaan sementara. Selama ini, keluarga dia gak tau kalau eva kerja sebagai pelacur, eva berusaha nutupi dan akhirnya lembaran gelap itu terkubur dengan sendirinya.

Tanpa kita sadari, gua dan eva samakin dekat. Setelah pendekatan itu, akhirnya kita menjadi sepasang kekasih. Mungkin cinta itu memang buta ya, baru kali ini gua merasakan cinta yang begitu dalam dari seorang perempuan di usia gua yang masih muda. Ketika dulu gua punya cinta monyet. Gua gak pernah ngerasa sebahagia ini selain bersama eva.  Walaupun dia punya masa lalu kelam, cinta berhasil membuat gua menghapus semua pandangan buruk itu. Seminggu setelah jadian, dengang uang jajan yang gua kumpulin, gua membeli cincin yang sama untuk kita pakai sebagai lambang cinta. Buat eva mungkin ini aneh, tapi dia sadar, gua masih berondong dan pasti gaya pacarannya juga kayak sinetron di tv jadi dia maklumin.

Tapi sepanjang waktu kami pacaran, gua merasa eva semakin hari semakin kurus dan tubuhnya jadi lemes gitu, ketika gua Tanya ke dia, dia Cuma bilang kalau dia mungkin kecapean. Tapi sebenarnya ada hal yang gua takutkan dengan kondisi dia. Gua masih ingat, untuk memastikan kalau eva ga bohong pas bilang butuh duit, gua sempat kembali ke tempat pelacuran dia kerja, dan iseng-iseng gua ngobrol sama cewek disana tentang dia.
“ loe siapanya eva?”
“ temen aja mbak, kalau boleh tau, dia kan cantik, kok bisa ga ada pelanggan sih?”
“ nasib mas, eva kena penyakit sifilis( penyakit kelamin). Kayaknya banyak pelanggan yang uda tau dia itu kena penyakit gituan, makanya ga ada yang mau sama dia! Disini kan pesaingan ketat, ada yang bocorin gitu, makanya kasihan dia..”
“ kenapa ga berobat aja dia..?”
“ maunya sih gitu! Tapi nyokapnya kan sakit, jadi dia mati-matian cari duit buat nyokap dia dulu, baru nanti mikirin sembuhin penyakit dia.. “
“ kasihan ya..”
“ iya mas, susah hidup sekarang. Saya yang dulu anterin dia ke dokter aja jadi sedih kalau bayangin hidup dia..”

Dari apa yang teman dia bilang, gua jadi yakin kalau eva jadi kurus ini pasti karena penyakit dia dulu. Walau dia ga pernah mau cerita ke gua, mungkin karena dia takut. Kalau dia penyakitan maka gua akan ninggalin dia. Padahal gua gak pernah peduli dengan sakitnya dia. Sakit eva makin buruk sampai akhirnya dia ga kerja. Gua akhirnya nyamperin ke rumah, dan dia ga bisa bangun karena tiba-tiba tubuhnya jadi kayak lumpuh gitu.

Saat itu juga gua putuskan untuk bawa dia ke rumah sakit, dia sempat menolak.
“ Rasya, rumah sakit itu mahal, orang miskin kayak gua kalau sakit itu ga ada keadilan, jadi biarin aja gua minum obat biasa, nanti juga sembuh”
“ loe itu uda gak bisa bangun. Gak usah pikirin duit. Gua ada tabungan, yang penting sekarang kita ke rumah sakit.”
Dengan penuh kesedihan, akhirnya eva gak bisa nolak kemauan gua. Gua menggendong dia sampai ke rumah sakit, dia dirawat dan dokter mengatakan ke gua dengan berat hati kalau eva sudah kenapa sifilis akut dan seluruh tubuhnya uda terkontiminasi sama sel-sel neurosifilis yang kemungkinan sembuhnya kecil. Dengan penuh air mata gua memohon kepada dokter untuk sembuhin dia. Gua dan nyokap serta adiknya saling bergantian jaga dia. Saat itu lagi ujian akhir kelulusan sekolah, gua harus bertahan dalam dua hal. Konsetrasi ke ujian dan konsetrasi ke eva.

Mungkin kedua cobaan itu berat tapi akhirnya gua berhasil mengerjakan semua ujian yang datang silih berganti bersamaan dengan waktu gua menjaga eva. Eva semakin kritis. Dia gak banyak bicara lagi seperti sebelumnya. Sepertinya dia tau, hidup dia tidak akan lama lagi.  Dia nyerahin sebuah diary ke gua. Dimana disana dia bilang hanya boleh dibaca setelah tiba saatnya nanti.
“ jangan dibuka ya sampai nanti kalau gua uda ga bisa bangun lagi..”
“ kok loe ngomong gitu..”
“ Sya, mungkin.. selama ini gua gak pernah jujur tentang panyakit gua, tapi gua Cuma ga mau kalau loe tau gua punya penyakit ini, loe ninggalin gua. Ternyata gua salah, loe benar-benar hadiah paling indah dalam hidup ini yang dikasih Tuhan buat gua. Gua pikir.. Tuhan gak akan pernah ngasih kebahagiaan buat gua karena memang gua ga pantes. Ternyata gua salah, Tuhan itu adil. Dan keadilan itu dia tunjukkan lewat loe..”
“ jangan ngomong gitu eva.. gua yang harusnya bersyukur punya pacar seperti loe dalam hidup gua, loe benar-benar anugrah..loe harus kuat ya, kita sama-sama berjuang untuk kebahagiaan kita..”
Eva hanya menangis mendengar gua bicara begitu. Gua pun menangis. Entah mengapa, gua seperti merasa ini adalah ujung dari akhir kisah kami.
“ sya, gua mau minta tolong satu hal lagi sama loe. .boleh?”
“ ngomong aja eva, kita kan pacaran, terbuka aja..”
“ gua gak punya apa-apa untuk ngasih loe sebagai balasan atas kebaikan loe, tapi gua Cuma punya ini.. bisa loe ambil kalung ini dari leher gua, soalnya.. tangan gua uda gak bisa bergerak lagi..”
“ kenapa bicara begitu.?”
“plz.. ambill” dengan berat hati gua melepas kalung itu dan mengambilnya.
“ disimpan ya.. sama buku harian yang gua tulis itu..”
“ iya eva.. tadi kamu bilang mau minta tolong, kenapa gak dilanjutkan?”
“ kalau gua mati, tolong jangan kubur gua di sini, gua mau dikubur di tanah kelahiran gua.. bisa..”

Mendengar kalimat itu dari mulut dia. Hati gua hancur. Gua gak tau harus bagaiman mengungkapkan kata-kata yang pantas untuk membuat gua bangkit dan percaya kalau dia akan sembuh. Gua hanya bisa menangis dan mengiyakan permintaan dia. Karena ada ujian lagi di besok. Gua pamitan sama dia. Gua mencium kening dia dan dengan berat hati saat itulah gua merasa ini terakhir kalianya gua akan melihat dia.
Dengan penuh tangis, gua pulang dan berharap Tuhan sekali lagi memberikan keadilan untuk hidup dia. Besoknya gua ujian terakhir dan ketika gua ingin jenguk dia, gua melihat sudah banyak orang di kamar dia di rawat. Semua menangis dan disitulah gua tau, eva telah pergi untuk selamanya. Gua hanya bisa tertunduk lesuh dan menangis dalam hati. Berat rasanya harus melepas kebahagiaan sesaat yang ada dalam hidup gua. Permintaan terakhirnya untuk di makamkan di tanah kelahirannya gua lakukan sebagai tanda cinta terindah dalam hidup gua untuk dia.

Kini, gua menyadari bahwa. Hidup itu sesungguhnya tidak pernah memihak kepada siapapun di dunia ini. tapi hidup itu membuat kita hanya bisa memihak kepada satu hal, bertahan untuk hidup dengan segala cara apapun. Eva mungkin telah berjuang hidup dengan ketidakberpihakan hidup tapi ia berhasil membuktikan kepada gua kalau disaat akhir hidupnya, dia benar-benar merasakan keadilan hidup sesungguhnya. Dengan cinta dan kasih sayang murni tanpa air mata penderitaan. dia mampu mengubah dirinya yang dulu adalah makluk hina menjadi seorang bidadari , walaupun itu hanya di hati gua, tapi gua percaya kelak semua orang akan setuju dengan apa yang gua bilang kalau dia adalah bidadari terakhir yang hidup di dunia ini.

Saat hanya bisa mengenangnya , hanya buku harian ini yang tersimpan dan membuat hati gua merasa mungkin jalan terbaik dalam hidup kita adalah seperti saat ini. 30-april 2010, itulah hari paling memilukan dalamn hidup gua dimana saat itulah gua memiliki kesempatan untuk membaca
tulisan terakhir eva untuk gua..



To : My Lovely ..... 

Dear,makasih kamu udah mau jadi pendamping akuselama ini...makasih juga udah mau jadi malaikatpenyelamat untuk ibu aku...Andaikan kamu tau aku punya penyakit gini,aku yakin kamu pasti kecewa trus tinggalinaku,yakin banget   makanya aku ngerahasiainini semua...maaf ya?Dear,Kamu Laki-laki paling baik yang pernah aku temuin,kamu mau terima aku apa adanya..Aku perempuan kotor,miskin,keluarga semrawut,tapi kamu tetep mau deket ma aku  Dear,andaikan aku udah gak hidup lagi di duniaini,kamu jangan sedih ya ? masih banyak perempuanyang lebih baik dari aku..kamu orang baik,haruspunya pendamping yang baik juga :')Inget,jangan lagi datang-datang ke tempat kotorgitu.setebal apapun iman kamu,pasti bisaruntuh ama yang namanya perempuan.Dear,walau dunia kita udah beda,aku tetep ada dihati kamu kan?janji?aku akan slalu disampingkamu,aku akan jaga kamu.......Maaf andaislama ini aku&keluarga udah nyusahin kamu :*Goodbye.......  

Semoga kamu bahagia disana eva, aku selalu ada untuk kamu walau kita telah berbeda dalam dunia ini. dan percayalah loe adalah bidadari terakhir dalam hidup gua,

tamat
Continue Reading

Kisah Nyata Cerita Cinta Wanita Selingkuh

Jumat, 03 Mei 2013 | 0 komentar


Suamiku tertidur di sebelahku, aku mengamati dan memandangnya… Ya Allah aku telah banyak menyakitinya, menghianatinya tanpa pernah dia tahu… Ya Allah betapa aku merasa diriku hina sekali dihadapannya. Aku tidak pantas memperlakukannya seperti ini…

Pembaca.. kisahku ini dimulai ketika aku diterima menjadi seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta di sebuah kota di Kalimantan. Belum lama aku bekerja di perusahaan tersebut tepatnya baru 5 bulan, bosku memperkenalkan aku dengan sahabatnya.

Sahabat bosku ganteng, kaya, dewasa, pekerjaannya pun mapan, jika dibandingkan dengan pacarku atau lebih tepatnya bisa dibilang suamiku karena kita diam-diam sudah menikah sirih, tetapi perusahaan tidak pernah tahu kalau aku sudah menikah karena masa dinas yang tidak memperbolehkan karyawan menikah sebelum satu tahun bekerja. Suamiku hanya seorang admin di sebuah perusahaan asuransi dan masih menyelesaikan kuliahnya, jika dibandingkan dengan sahabat bosku yang sudah mapan, kaya, dan ganteng itu sungguh sangat jauh berbeda.

Awalnya aku menolak menerima cinta sahabat bosku tersebut, dengan menangis-nangis dia memohon agar aku mau menerima cintanya. Tapi memang awalnya aku belum tertarik padanya, aku merasa tahu diri bahwa aku sudah bersuami dan aku sangat mencintai suamiku itu, dengan membayangkan masa-masa dulu bahagia dengan cinta yang kami bina.

Tetapi dengan penuh cinta, sahabat bosku tersebut berusaha terus mendekatiku. Dia menelpon, sms, menghubungiku melalui Facebook, dan dengan cara-cara lainnya. Meskipun dia jauh di Jakarta, tetapi tidak memupuskan semangatnya untuk mengejarku. Tanpa disadari aku mulai kehilangan dia ketika dia sehari saja tak menghubungiku, aku merindukannya ketika sejam saja dia terlambat menanyakan aku apa sudah makan siang atau belum, aku merasa nyaman dengan kedewasaanya, kasih sayangnya, dan semua perlakuannya kepadaku.

Pada suatu hari kami bersepakat untuk bertemu, dia bela-belain ke Kalimantan hanya untuk menemuiku. Dia utarakan niatnya untuk memperistriku tapi karena aku juga mulai mencintainya akupun berniat memilihnya untuk menjadi suamiku yang sebenarnya. Aku berniat untuk meminta cerai talak kepada suamiku yang sekarang. Tapi karena aku tahu bahwa aku sudah tidak perawan karena aku sudah menikah sirih dengan suamiku yang sekarang. Kuceritakan kondisi diriku yang sebenarnya kepada sahabat bosku tersebut.

Dia menangis seolah tidak terima bahwa seseorang yang sangat dicintainya dan dipilih untuk menjadi istrinya tidak sesuai dengan kriteria dirinya dan keluarganya. Dia bilang kalau dia pribadi bisa menerima aku apa adanya karena dia sangat mencintaiku, tapi untuk memperkenalkan aku kepada keluarganya dia bilang belum bisa dan belum sanggup melakukannya.

Dia tak tahu apakah keluarganya mau menerimaku atau tidak jika calon menantunya adalah seorang janda. Karena di dalam keluarganya harga diri, nama baik, status sosial, bibit, bebet, dan bobot adalah sangat menjadi pertimbangan.

Aku sangat kecewa dengannya, aku berusaha melupakannya setelah pertemuan itu, tetapi tidak kusangka dia tetap menelponku meski dia tahu bahwa aku tidak seperti yang dia mau. Dia tetap berusaha menjaga hubungan cinta kami. Lama kelamaan aku menyadari bahwa dia memang benar-benar mencintaiku. Aku tidak pernah merasakan cinta seperti dia mencintaiku, mengagumiku. Aku merasa menjadi wanita yang paling cantik dan sempurna di dunia karena dicintai seseorang pria dewasa seperti dia.

Akhirnya kita tetap berhubungan, tak ayal berhubungan badanpun sudah menjadi suatu kebutuhan dan sebuah ungkapan untuk kami melepas rindu. Meski jarak memisahkan kami tetapi tidak memupuskan semangat kami untuk memadu cinta. Sebulan sekali kami pasti bertemu, entah dia yang ke Kalimantan atau aku yang ke Jakarta hanya untuk menemuinya. Meski aku harus berbohong kepada keluarga besarku dan suamiku soal seringnya aku harus keluar kota. Aku selalu membuat alasan kalau aku mendapat tugas dinas keluar kota dari kantor. Dengan penuh kesabaran suamiku selalu mengantarkan aku ke bandara jika aku mau ke jakarta dan menjeputku lagi di bandara saat aku kembali ke Kalimantan.

Hari demi hari, bulan demi bulan pun berlalu, kami terus memadu kasih melalui dunia maya, handpone dan sebagainya. Suatu hari keluargaku berniat menikahkan aku secara resmi dengan suamiku, aku bingung harus berbuat apa. Sedangkan aku sudah tidak mencintainya lagi, semua sudah pudar seiring berjalannya waktu. Tetapi aku pun tidak pernah mendapat kepastian dari sahabat bosku itu tentang hubungan kami.

Hubunganku dengan sahabat bosku yang tidak tahu kemana akan dibawa membuatku berpikir dua kali. Sampai kapan aku terus mengharapkannya, sedangkan dia seolah lebih mencintai keluarganya dibanding aku. Meskipun dia rela melakukan apa saja untukku tapi tidak untuk menentang keluarganya demi aku.

Akhirnya aku memutuskan untuk menjalani pernikahan resmiku bersama suamiku. Meski cintaku kepadanya sudah tidak seperti dahulu lagi tapi aku tidak ada pilihan lain. Daripada aku menunggu selikuhanku yang tidak pernah ada kepastian. Dan akhirnya aku pun menikah resmi.

Sahabat bosku itu terus menelponku dan menangis, dia merasa dia juga tidak bisa berbuat apa-apa atas kehidupannya bersamaku. Tapi entah mengapa aku merasa nyaman, tenang, dan bahagia atas pernikahan resmiku bersama suamiku. Meski cintaku tidak lagi sepenuhnya seperti dahulu.

Hari demi hari aku lalui dengan berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik di depan suamiku meski aku tidak setia kepadanya. Hubunganku dengan selingkuhanku pun terus berlanjut, tak berbeda dengan sebelum aku menikah kami tetap saling mengunjungi entah aku ke Jakarta atau dia yang ke kalimantan. Dia tetap mencintaiku seperti dulu, tidak berubah. Dia tetap mengagumiku, memujaku seperti dulu, bahkan kami sempat untuk berencana memiliki anak. Kami terus berusaha untuk bisa segera punya anak, sama seperti suamiku yang ingin segera memiliki anak dari pernikahan kami.

Satu bulan, dua bulan, akhirnya bulan keempat pun tiba. Aku merasa tidak mendapatkan haid di bulan itu. Seminggu setelahnya aku periksa kedokter ternyata hasilnya positif, iya aku hamil. Meski aku belum tahu anak siapa yang aku kandung tapi berita ini membuat kedua laki-laki yang sama-sama mencintaiku itu sangat bahagia.

Tapi entah kenapa aku tidak yakin kalau ini anak selingkuhanku, karena dilihat dari frekuwensi kami bertemu hanya sebulan sekali, meski setiap kali kami bertemu kami pasti berhubungan badan. Pernah suatu hari selingkuhanku menanyakan kepastian siapa bapak dari anak yang aku kandung, tapi aku meyakinkan dia bahwa untuk tidak terlalu berharap karena menurutku labih baik dia kecewa sekarang daripada nanti setelah aku melahirkan, dia lebih kecewa lagi ketika dia tahu bahwa si kecil ngga mirip dia.

Hari ke hari, bulan ke bulan, sampe akhirnya tiba waktu aku melahirkan. Suamiku yang setia menungguiku dari awal aku merasa kesakitan sampai saatnya aku bertaruh nyawa melahirkan anakku, anakku yang aku belum tahu siapa bapaknya. Dari pagi sampai pagi lagi suamiku dengan sabar mendampingiku, memberiku support dan semangat. Sampai dia tertidur di sebelahku, aku mengamatinya dan memandangnya ya Allah aku telah banyak menyakitinya, menghianatinya tanpa pernah dia tahu. Seandainya dia tahu perbuatanku yang sangat bejat ini mungkin dia tidak akan pernah mau melihat mukaku lagi dan mungkin aku akan kehilangan laki-laki yang sangat setia dan baik ini.

Rasa ibaku muncul, tiba-tiba aku ingat masa-masa dulu aku bersamanya merajut cinta. Susah senang kami jalani bersama tanpa mengeluh. Cintaku kembali bersemi untuk suamiku, rasa iba itu membawaku kembali mencintainya, menyayanginya, ya Allah betapa aku merasa diriku hina sekali dihadapannya. Aku tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Ternyata aku sadari bahwa masih ada setitik rasa cinta untuk suamiku.

Akhirnya aku pun melahirkan buah hatiku, yang banyak orang menantinya. Dia cantik, putih bersih, mungil. Wajahnya mirip sekali denganku, tetapi bentuk tubuhnya mirip sekali dengan ayahnya, ya! Ayahnya yang tegap, tinggi besar, dan bertulang besar, dia adalah suamiku. Suamiku yang sah yang akupun mulai mencintainya lagi, menyayanginya. Ternyata bapak dari anakku adalah suamiku yang sah, entah kenapa pula aku sangat bahagia mengetahui bahwa ayah kandung dari anakku adalah suamiku sendiri, suami yang sah, yang aku khianati sejak lama.

Akupun menelpon selingkuhanku untuk memberi tahu kabar baik ini kepadanya, meski belum tentu ini adalah kabar menggembirakan buat dia. Setelah kuberi tahu, dia seolah sudah siap atas segala kemungkinan yang akan terjadi, kemungkinan bahwa si mungil cantikku itu bukanlah keturunanya. Kami sempat berkomunikasi melalui video call di rumah sakit, dan akupun menunjukkan si kecil padanya.

Dia tetap bahagia meski dia tahu bahwa anakku bukan darah dagingnya. dia selalu menanyakan kabar anakku setiap dia menelponku. Dia juga ikut cemas jika si kecil sakit. Bahkan dia mengirimkan kado istimewa untuk si kecil. Aku tidak pernah tahu terbuat dari apakah cintanya buatku. Seperti apapun kondisiku dia tetap mencintaiku dan memujaku.

Tapi aku kini telah sadar, aku mulai mencintai suamiku lagi, mulai menyayanginya lagi. Dan aku pun mulai jarang menghubungi selingkuhanku. Tapi meski begitu dia tidak pernah putus asa untuk selalu menjalin hubungan baik denganku. Baginya meskipun dia tidak bisa memilikiku paling tidak dia tetap bisa berteman denganku, tahu kabarku. Bahkan dia mengirimkan uang untuk kado si kecil. Membelikan boneka saat dia ke kotaku di kalimantan. Aku sangat menghargai cintanya buatku, tapi aku sadar bahwa aku sudah bersuami dan bahkan sekarang ada si kecil yang selalu membuatku sadar akan kodratku dan statusku.

Aku menyanyangimu Suamiku.. meski di hatiku sudah terbagi dengan yang lain meski secuil. Maafkan aku, tapi aku berjanji aku tidak akan meninggalkan kalian suamiku dan anakku, kalian tetap nomor satu bagiku. Aku mencintai kalian, kalian adalah semangat hidupku.
Continue Reading

Maaf Ku Harus Pergi dari Cintamu

Rabu, 01 Mei 2013 | 0 komentar


Cerpen Sedih

Indahnya cinta kurasa , tetapi tak seindah yang kukira . malam semakin malam, tanpa ada dirimu disisi. ku mohon pada dirimu jangan dustai hati dan cintaku. Kasihku hanyalah dirimu , kasihku aku cinta padamu .Lembut nya embun pagi menyapa hati dan cintaku , seolah tak berhenti berharap akan cintamu. Manisnya cintamu dan indah senyum bibirmu menambah rasa cintaku kepada dirimu . dunia maya adalah awal cerita kita yang tak pernah kulupa sepanjang hidupku . perkenalan ku dengan dirinya membawa arti kebahagian dalam hidupku. Perbedaan pendapat membawa kita pada jurang kehancuran.

Maaf ini sudah menjadi keputusan ku dan harus pergi untuk kesekian kalinya , dan aku pun tak bisa berbuat apa – apa hanya kata maaf ku bisa ku ucapkan padamu.

Jujur ,kau telah melukai hati perasaanku , sehingga hidup ku kehilangan arah tujuan dan membuat suram hidupku.

En, kenapa kau membohongi ku, apa kau tidak iba akan diriku. Maafin aku? Janji- janjimu semua palsu .
Aku sedih melihat kamu tak setia pada ku .

Walau rasa sayangku begitu besar kepada mu. tapi itu percuma ,kamu seakan tak menghiraukan aku lagi.
Malam Tahun baru 2011 adalah malam begita saklar .makna pergantian tahun . karna,ini juga termasuk sangat bermakna dalam hubungan kita bina selama ini .semua serba baru .

Kamu dimana ? loh ko , kenapa kamu pulang ke Depok sih . oya udah , kalau kamu mau malam tahun baruan bersama keponakanmu.

Bergegas aku mencoba mengecek ketempat kost an mu di bilangan Rawamangun .apa benar dia pulang ke depok atau membohongiku.

Aku gak yakin Eni pulang ke depok , rasa bimbang dan gak yakin tercurah dalam perasaan ku ini.loh ko, ternyata dia membohongi ku , ku melihat sendalnya berada ditempat kerjanya .tanpa berpikir panjang aku ketuk pintu kantornya , dia tampak kaget memandang diriku .hubungan yang terjalin selama 4 tahun dirusak oleh dia sendiri. membina hubungan begitu lama, akhirnya dia berkhianat tertangkap basah dengan rekan kerjanya sedang berdua an dalam kantor.

Keluar kamu, dia tampak bingung memandang ku dan penuh rasa bersalah karna telah berbohong.

“Ayo, kita jalan ?
“Bergegas keluar dan meninggalkan kantor ?
“Pucat terlihat dalam raut wajahnya?

Sadar dia telah berbohong , pembicaraan selalu dialihkan .kamu kenapa bohong? Jujur ini terasa mimpi , dibohongi pasangan adalah sesuatu paling najis . Masih terasa luka oleh perilaku dia semalam , ternyata aku belum percaya 100%.

Walau pun diriku sedang libur , aku coba menyatroni tempat kost an untuk kali ke dua.rasa kepercayaan ku mulai luntur , tak kala dia tertangkap basah lagi . rekan kerjanya yang juga kenal denganku , Nampak datang ke tempat kost nya . aku gak tinggal diam, 500 menit ku mengawasi .akhirnya ku datangi kost an nya terjadi keributan , sayang tangan ku dipegang nya sehingga tak terjadi perkelahian antara hasim dan aku . merasa tertangkap basah untuk kali ke dua , dia nampak pucat terlihat diwajahnya.

Jujur dengan kejadian itu , aku benar gak bisa memaafkan dia ? rasa kepercayaan ku hilang seketika dan larut dalam kekecewaan .

Meski pun sudah hilang rasa cintaku . tetapi aku memandang dia , mungkin itu semua sesuatu ke khilaf an dan bisa diperbaiki kembali. Aku pun mencoba mengunjungi dia ke kost an nya dengan maksud main dan sekalian meminta maaf atas sikap ku yang arogan .sayang , maksud baik ku ga direspon dengan baik ,aku ditinggal sendiri di teras kost an nya.

Ku telpon ponselnya selalu di matikan ? Ku sms ga ada balasan?

Hingga akhirnya , mungkin aku harus pergi dari hati dan cintanya selamanya dan menatap esok hari yang lebih cerah. Pergi dengan perasaan galau terasa dalam hati ku . tak ada keindahan yang tercipta dunia seakan gelap menjadi gurita .

Mendengar ku tidak ada di Jakarta . dia pun mencoba menghubungi diriku
“hallo, kamu dimana ?
Maaf , aku sudah berada di luar kota sekarang?
“eh , kenapa kamu pergi ? segera balik , saya tunggu kamu di kost an sekarang.
“maaf ga bisa , aku sudah di Jawa ?
“oya , udah kalau itu mau kamu sih?

Kegagalan dalam bercinta bukan berarti kiamat , akan tetapi kegagalan adalah sebuah pengalaman dan harus dicarikan solusinya. Hari – hari yang indah kini telah hilang. Ku coba menjalani kehidupanku dengan rasa tegar walau terkadang rasa kesepian hinggap dan selalu menghantui pikiranku.

Gambaran cerita ini mungkin sedikit dari sekian banyak cerita hidup yangbisa di jadikan renungan.sehingga kita dapat belajar tentang arti sebuah cinta .karna, setiap manusia tidak ingin gagal dalam menjalin hubungan asmara.semoga kita lebih mawas diri dan menjaga hubungan jalinan kasih dengan pasangan kita.
Sekarang antara aku dan dia tidak ada kontek ?mungkin dia sekarang sudah menjalin cinta dengan yang lain dan menghasilkan Buah cinta yang menhasilkan kasih sayang
*******
Continue Reading

Diatas Sajadah Cinta

Senin, 29 April 2013 | 0 komentar


KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagaian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa. Diserambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teduh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat‐ayat suci Al‐Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang‐orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudznnya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian. Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat‐ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala‐yala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat‐ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur skujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci. Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menagis, “fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha. qad aflaha man zakkaaha. wa qad khaaba man dassaaha…”
(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa yang itu jalan kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya….) Hatinya bertanya‐tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya? Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi? Ayat itu ia ulang berkali‐kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.
***
Sementara itu, dipinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu‐lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap‐kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun korma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya. Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari‐nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang meneragi ruangan itu. Kecantikannya sungguh mempesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,
“in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si
musyriqun bi dhau’
wal hubb al wariq…”
(jika aku pencinta malam maka
gelasku memancarkan cahaya
dan cinta yang mekar…)

***
Gadis itu terus manari‐nari dengan riangnya. Hatinya berbunga‐bunga. Diruangan tengah, kedua orang tuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata,”Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik‐baik syair‐syair yang ia dendangkan.” “Ya, itu syair‐syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang dipasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.” “Bagaimana, kau terima atau…?” “Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu, Yasir itu gagah dan tampan.”
“Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu ?”
“Tak perlu ! Kita tak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk
Afirah adalah Yasir.”
“Tapi engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”
“Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”

***
Pada saat yang sama, disebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi ileh teman‐temannya. Tak jauh darinya, seorang penari melenggak lenggokkan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.
“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.
“Be … benarkah?”
“Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia‐siakan kesempatan ini, Yasir !”
“Baiklah. Bersenang‐senang dengannya memang impianku.”
Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari‐nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduannya benar‐benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ke telinga Yasir,
“Apakah And punya waktu malam ini bersamaku?”
Yasir tersenyum dan mengaggukkan kepalanya. Keduanya terus menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking‐lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.

***
Keesokan harinya.
Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat‐ayat suci Al‐Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaraya yang sakit. Zahid berjalan melewati kebun korma yang luas, saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun korma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup‐sayup telinganya menangkap suara, “Tolong ! Tolong !!”
Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.
“Tolong ! Tolong !!”
Suara itu semakin jelasa terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bias menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.
“Tolong ! Tolong hentikan kudaku ini ! Ia tidak bisa dikendalikan !”
Mendengar hal itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat‐cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan
berkata keras, “Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”
Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya.
“Assalamu’alaiki. Kau tidak apa‐apa?”
Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan, “Alhamdulillah, tidak apa‐apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.” “Syukurlah kalau begitu.”
Dua mata bening dibalik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangan ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan mempesona, “Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau kemana Tuan?”
Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih mempesona. Hatinya bergetar habat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat‐cepat menundukkan kepalanya.
“Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.
“Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudarku yang sakit.”
“Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya Cuma didalam masjid?”
“Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain,” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.
“Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa‐gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”
“Aku mau melanjutkan perjalananku!”
Tiba‐tiba gadis itu berlari dan berdiri dihadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Sumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.
“Tuan aku hanya mau bilang, namku Afirah. Kebun ini milik ayah ku . Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan dating ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagi ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.” Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau.
“Tidak usah.”
“Terimalah, tidak apa‐apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”
Terpaksa zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kaki nya melanjutkan perjalanan. Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir. Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca‐kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun korma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang‐orang tentang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba‐tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata, “Inikah cinta? Beginikah rasanya? Tersa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba‐Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.” Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba‐tiba ia tersenyum, “Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan dating kemari.” Hatinya berbunga‐bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.

***
Sementara itu di dalam Masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis disebelah mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun korma tadi pagi ia tidak bias mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung‐relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al‐quran dan dalam apa saj yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh‐jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu‐khusyu –nya namun usaha itu sia‐sia.
“Ilahi, kasihanilah hamba‐Mu yang, lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta‐Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang mahluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun‐embun cinta yang menets‐netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk‐Mu. “isak Zahid mengharu biru pada Tuhan sang Pencipta hati, cinta dan segala keindahan semesta. Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda‐noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun‐embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab‐Nya. Rasa cinta dan rindunya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan. Menjelang subuh, ia terbagun. Ia tersentak kaget. Ia belum shalat tahajud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkrama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya. “Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari di dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!” Ia lalu bangkit, wudhu dan shalat tahajud. Di dalam sujudnya ia berdoa, “Ilahi, hamba mohon ridha‐Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkaMu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada‐Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggungNya. Amin. Ilahi hamba mohon ampunan‐Mu, rahmat‐Mu, cinta‐Mu, dan Ridha‐Mu.”
Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan kearah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu rumah Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Disana ia disambut dengan baik oleh kedua orang tua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afirah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.
Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengar jawaban ayah Afirah, “Anakku Zahid, kau dating terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar oleh Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.” Zahid hanya mampu menganggukkan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bias menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca‐kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga. Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali‐kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfar dan ….Afirah. Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,

Kepada Zahid,
Assalamualaikum,

Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku . Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bias ku ingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama‐lamanya.
Zahid,
Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, Aku akan dating ketempatmu dan kita bias memadu cinta. Atau, kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.

Wassalam
Afirah

Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bias dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga. Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga‐bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristigfar sebanyak‐banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis balasan untuk Afirah:

Kepada Afirah,
Salamullahi’alaiki,

Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata‐mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah Azza Wa Jalla. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka‐Nya.
Afirah, Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah,”Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzzba yaumin ‘adhim!” (sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb‐ku. Az‐Zumar:13)
Afirah, Jika kita terus bertakwa, Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada‐Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya: “Wanita‐wanita yang tidak baik adalah untuk laki‐laki tidak baik, dan laki‐laki yang tidak baik adalah buat wanita‐wanita yang tidak baik (pula, dan wanita‐wanita yang baik adalah untuk laki‐laki yang baik dan laki‐laki yang baik adalah untuk wanita‐wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).” Karena aku ingin mendapatkan bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan. Afirah, Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.

Wassalam,
Zahid.

Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya. Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamour. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah Swt. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Diatas sajadah putih itu ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, Yaitu cinta kepada Allah Swt. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar‐benar larut dalam samudera cinta kepada Allah Swt. Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulankemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah:

Kepada Zahid,
Assalamu’alaikum,

Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba‐Nya yang bertaqwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau dating melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasulullah Saw. secapatnya.

Wassalam
Afirah,

Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga‐bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.

Continue Reading

***..Perjuangan Tanpa Pandang Bulu..***

Sabtu, 27 April 2013 | 0 komentar

Memulai hari baru dengan sebuah senyum yang tersimpul dari bibir mungilnya. Tidak salah lagi senyuman yang ikhlas dari lubuk hatinya terpancarkan lagi setelah sepekan dia terbelenggu oleh perasaan bersalahnya kepada orang-orang terkasihnya. Asih, dialah yang memulai pagi hari ini dengan senyum itu berangkat menuju sekolahnya tercinta, untuk mengisi kembali amunisinya demi meraih cita-citanya. Dia sekarang telah duduk dibangku kelas tiga SMP Kusuma Bangsa, itu berarti sebentar lagi ia akan meninggalkan sekolah tercintanya untuk ke tingkatan yang lebih atas lagi yakni SMA.

Asih, remaja yang lugu dan patuh pada orangtuanya serta sayang dengan adik-adiknya. Namun, nasibnya tak seberuntung teman-temannya, dia terlahir dari keluarga yang sederhana bahkan semenjak ayahnya tak lagi bekerja di pabrik konveksi yang tak jauh dari rumahnya dan sekarang bekerja serabutan, dia harus membantu ibunya berjualan makanan demi tetap mengebulnya dapur mereka dan lancarnya sekolahnya juga adik pertamanya, Bimo. Tetapi dia tak pernah merasa malu ataupun mengeluh walaupun teman-temannya sering mengejeknya.

Asih merasa bersalah bukan karena mengecewakan orangtuanya yang tak mau lagi berjualan melainkan ia belum mampu memberikan hasil yang memuaskan selama latihan ujian yang diselenggarakan di sekolah terutama pada latihan ujian di tingkat Provinsi yang kata gurunya nilai yang diperoleh dari latihan ujian tersebut dapat menjadi gambaran bagaimana nilai asli yang akan diperoleh nantinya seperti pada tahun-tahun sebelumnya perkiraan itu tidak jauh beda. Hal inilah membuatnya sempat terjatuh dalam lubang kepesimisan.
Sebelum Asih meninggalkan rumah menuju sekolah setelah berpamitan, tiba-tiba ibunya menghentikan langkah Asih.

“Bentar nak, apa kamu yakin dengan keadaanmu sekarang?”, tanya ibu menyelidik.
“Tenang saja Bu. Lihat! Aku tidak apa-apa kan?”, kata Asih sambil menunjukkan ekspresi senangnya untuk meyakinkan ibunya.
“Tapi nak, Ibu tetap merasa kurang yakin. Apa gak sebaiknya kamu gak usah berjualan dulu supaya kamu lebih fokus belajarnya? Nanti biar Ibu saja yang berjualan”, kata Ibu menasihati.
“Tidak usah Bu, percayalah padaku. Asih minta maaf telah membuat ibu khawatir seperti ini. Kali ini akan Asih buktikan pada Ibu kalo putri Ibu ini bisa”. jelas Asih pada ibunya.
“Baiklah nak, Ibu dan Ayah di sini akan senantiasa mendoakanmu dan mendukungmu”, kata Ibu.
“Terimakasih Bu. Asih pamit. Assalamualaikum.”, kata Asih sambil melempar senyum pada ibunya.
“Walaikumussalam warrahmatullah. Sukses anakku!”, jawab Ibu setengah berteriak untuk menyemangati Asih yang berjalan menuju sekolah.

Tak berapa lama Asih pun sampai di depan gerbang, setelah menempuh perjalanannya dengan berjalan kaki. Sebelum dia benar-benar masuk di kawasan sekolahnya, dia menyempatkan diri untuk berikrar dalam hati untuk kali ini dia tak ingin menyia-nyiakan waktunya yang tersisa dan menyia-nyiakan kepercayaan orangtuanya sebelum Ujian Nasional benar berlangsung.
Setelah dirasa puas sambil meghirup udara pagi yang masih kaya akan oksigen dia pun melangkahkan kaki masuk ke kawasan sekolah.
“Selamat Pagi, Pak!”, sapa Asih kepada kedua satpam sekolahnya yang sedang ada di pos.
“Pagi juga, Sih!”, jawab kedua satpam dengan tersenyum.
Di sekolah memang Asih terkenal sebagai seorang teman yang baik dan mudah bergaul dari kacamata teman-temannya sedangkan sebagai seorang murid, dia adalah murid yang rajin dan berprestasi. Namun, keadaan itu tak membuatnya terlepas dari teman-temannya yang iri padanya tapi hal itu tak membuatnya menjadi tidak percaya diri atau malah pesimis.

Dia pun melanjutkan langkah kakinya menuju kelasnya yang berada disamping lapangan basket, tetapi saat dia tengah melewati lapangan basket, tiba-tiba bola melayang cukup kencang dari tendangan salah satu pemain tepat mengenai kepala Asih. Seketika Asih pun hilang keseimbangan kemudian terjatuhlah. Terkadang lapangan basket sekolahnya dapat beralih fungsi menjadi lapangan futsal. Pagi itu pun beberapa anak laki-laki seangkatannya tengah asyik bermain bola sebelum masuk waktu pendalaman materi. Pendalaman materi itu sudah merupakan program umum dari sekolah bagi siswa kelas tiga yang hendak menghadapi UN dengan harapan hasil yang diperoleh nantinya lebih maksimal.
Melihat Asih yang tergeletak, spontan anak-anak yang bermain sepakbola dan beberapa teman yang menonton futsal itu tadi menolong Asih.

“Aduh, siapa sih yang gak bisa nendang?”, gerutu Asih kesal sambil mengusap-ngusap kepalanya tapi ia tidak ingin menyalahkan temannya yang telah berbuat salah padanya karena dia merasa mungkin salahnya juga karena tidak menyadari kalau lapangannya sedang ada yang memakai.
“Kamu gakpapa? Ada yang sakit gak?”, tanya salah seorang temannya.
“Gakpapa kok, cuman agak sakit di sebelah sini.”, jawab Asih sambil menunjukkan kepalanya yang sakit.
Melihat ada kerumunan orang, Lissa yang dari kelas pun heran, dia pun segera menghampiri kerumunan itu. Tak disangka terlihat sahabatnya tengah kesakitan. Dia pun cemas dan segera menolong Asih.
“Ada apa ini? Kok kamu bisa kayak gini? Siapa yang berani giniin kamu?”, tanya Lissa menggebu-nggebu.
“Aku gakpapa kok Lis, kamu tenang, sekarang mending kamu bantuin aku bawain jualanku ini. Untung saja gak kenapa-napa kalo rusak bisa hari ini aku gak jualan.”, kata Asih menenangkan Lissa dengan menggenggam pergelangan tangan Lissa.
“Malah ngurusin jualanmu. Yaudah, nanti aku ambilin obat dari UKS ya. Kita sekarang ke kelas aja bentar lagi juga masuk. Awas nanti ya kalo aku tau sapa yang bikin bonyok Asih akan aku bikin perhitungan sama dia”, jelas Lissa dengan sedikit kesal.

Lissa pun membantu Asih dengan dibantu juga oleh beberapa teman lainnya. Sampai di kelas Asih mengucapkan terimakasih kepada teman-temannya atas bantuan mereka. Dimata Asih, Lissa adalah sesosok sahabat yang berarti sekali baginya karena dia selalu menjadi pelindung baginya dari keisengan teman-temannya dan terkadang juga bisa sebagai kakak bagi Asih, memang terkadang Lissa terlihat sedikit keras tapi itu hanya dia tujukan kepada orang-orang yang suka mengambil hak-hak orang lain ataupun yang suka berbuat jahat kepada orang lain. Sifat Lissalah yang membuat orang-orang segan terhadapnya bahkan guru yang bertindak sewenang-wenang pun bisa dibuat mati kutu oleh Lissa. Lissa tak pernah memakai fisik kalau tidak benar-benar terdesak.

Oleh karena itu, Lissa sering dikirim setiap ada lomba debat ataupun lomba-lomba yang bertemakan kemanusiaan. Dan tidak mengecewakan dia selalu meraih juara dalam setiap perlombaan yang dia ikuti. Lain halnya dengan Asih dia lebih berbakat dalam bidang keilmuan dan seni, mereka berdua sama-sama hebatnya. Walaupun Asih dan Lissa berbeda tetapi mereka saling melengkapi, mereka telah lama bersama dari kecil, hanya saja kondisi ekonomi keluarga Lissa lebih tercukupi dibanding Asih. Tetap hal itu tidak membuat persahabatan mereka pupus begitu saja. Lissa adalah orang yang manis dan pintar sehingga wajar saja banyak orang yang mengaguminya tapi karena sifatnya yang tidak begitu menghiraukan perasaan seseorang terhadapnya yang membuat Lissa susah untuk ditaklukan hatinya oleh seorang laki-laki sampai saat ini.

Setelah Asih mendapat pengobatan dari Lissa, terdengar bunyi bel masuk untuk pendalaman materi atau lebih sering disingkat PM. Ditengah pendalaman materi, sesekali mereka berbincang.
“Gimana dah mendingan kan?”, tanya Lissa.
“Udah kok, malahan udah gak terasa tadi juga gak begitu keras kok kenanya”, jawab Asih menjelaskan.
“Ya tapi tetep aja sakit kan? Gak bisa dibiarin hal kayak gini, ya untungnya kamu gakpapa kalo seumpama kamu tadi terus pingsan bakalan makin panjang urusannya. Awas kalo nanti aku tau siapa yang nendang bola tadi, aku suruh dia minta maaf ke kamu sampai kamu mau maafin dia terus janji buat lebih hati-hati lagi”, jelas Lissa pada Asih.

“Gak perlu, lagian salahku juga tadi yang gak sadar kalo lagi buat futsal. Udahlah lupain aja mending kita fokus aja buat ujian yang tinggal mengitung hari”, jawab Asih.
“Okedeh kalo itu maumu. Eh iya, ngomong-ngomong ini dah tinggal 49 hari lagi kita bener-bener UN, jadi inget drama korea yang tempo hari udah tamat aku tonton. Judulnya 49 hari, seru gak kalo kira-kira aku bikin 49 hari kita? Itung-itung buat bahan tulisanku”, tanya Lissa dengan semangat. “Tapi aku bakalan warnai hari-hariku itu dengan cerita-cerita indah menjalani UN bukan sebaliknya terus itu lebih asyik kalo sama kamu, gimana? Setuju gak?”, lanjutnya.
“Aku dukung aja ide-idemu yang terkadang gak tau dari mana datangnya”, jawab Asih dengan nada yang menyindir.
“Iih kok kamu bilang gitu sih. Tapi okedeh, makasi supportnya”, jawab Lissa dengan memeluk erat Asih. Teman-teman di belakang mereka pun melihat tingkah laku mereka dengan keheranan. Tetapi mereka tak menghiraukannya.

Suasana kelas pun kembali serius, murid-murid pun fokus mendengarkan penjelasan guru dan mengikuti pelajaran dengan baik sampai waktu istirahat tiba.
Murid-murid pun dengan sigap keluar untuk menikmati waktu istirahatnya yang dirasa sangat berarti dimasa-masa harus dihadapkan dengan soal-soal dan materi seperti ini. Asih dan Lissa pun bukan pergi ke kantin melainkan menjajakan jualannya Asih ke kelas-kelas terlebih dahulu. Ketika sampai di kelas 9A yang ada di pojok lorong terkuaklah kembali insiden pagi hari tadi.
“Kamu gakpapa kan, Sih? Maaf tadi aku gak liat kalo ada kamu disitu jadi aku terlalu semangat menendangnya.”, kata Arsad.
“Gakpapa kok, santai aja hanya saja aku sedikit kesal tadi pada orang yang menendang bola sembarangan, untuk itu aku juga minta maaf”, kata Asih.
“Oh begitu baiklah, berarti sekarang kita gak marahan lagi ya? Makasih juga atas pemberian maafmu. Oh ya ngomong-ngomong kamu jual apa?”, tanya Arsad pada Asih dengan perasaan lega.
Namun, sebelum sempat menjawab pertanyaan Arsad, Lissa pun sudah menghampiri mereka dan memberitahu info yang baru saja didapatkannya.
“Eh Sih, ini dia orang yang tadi nendang bolanya gak bener sampe kena kepala kamu tuh. Makanya kalo maen ati-ati dong!”, jelas Lissa bersulut-sulut sambil menunjuk ke arah Arsad.
“Iya Lis, aku udah tau. Lagian dia juga dah minta maaf ke aku kok. Aku juga udah minta maaf padanya, terus sekarang kita gak punya masalah lagi. Yaudah yuk mending kita keluar, bentar lagi juga mau bel”, jawab Asih malu dihadapan Arsad melihat tingkah Lissa yang terlihat masih kesal. Untuk itu Asih mengajak Lissa keluar supaya tidak terjadi hal yang tak diharapkannya.

Asih dan Lissa pun keluar dari kelas 9A sedangkan Arsad belum sempat mendapat jawaban dari Asih, mereka sudah keluar. Tetapi Arsad pun masih ingin mendapat jawaban dari Asih yang tertunda itu.
“Tapi Sih, dia harus dikasih pelajaran juga, aku belum puas mengeluarkan kejengkelanku padanya. Setelah aku tau kalo dia yang bikin kamu kayak gini makin sebel aku, kamu tau kan dia kayak gimana, sombongnya minta ampun mentang-mentang banyak fansnya gitu.”, jelas Lissa dengan kesal.
“Iya aku tau tapi kenapa sih harus diperpanjang lagian aku sama dia udah gak ada masalah. Udah inget katanya kamu mau bikin 49 hari kita berwarna terang kan? Masa cuman gara-gara kamu kesel sama dia terus ngrusak planning kita?”, kata Asih sambil menenagkan Lissa.

“Betul juga. Ayo kita bikin hari-hari kita yang tersisa ini lebih bewarna. Dan jangan lupa sama tujuan kita selama ini lulus dengan hasil yang memuaskan dan bersih”, kata Lissa kembali bersemangat.
Sejak hari itulah Asih memulai hari-harinya dengan lebih semangat dan jarang sekali dia memperlihatkan wajah murungnya lagi, ia telah bertekad untuk tidak lagi berlarut-larut dalam penyesalan karena semua itu tidak lepas dari usaha yang telah ia lakukan dan ridho Allah SWT. Dia selalu mengingat kata-kata dari guru mengajinya bahwa ‘Allah memberi ujian kepada hambanya tidak lain adalah untuk mengangkat derajat hambanya tersebut’ Untuk itu Asih tidak akan lagi berprasangka buruk kepada siapapun bahkan dia lebih percaya diri sekarang.

Tak lupa hari-hari menuju UN, Asih jalani dengan senyuman yang selalu merekah dari bibirnya. Lambat laun dia telah mampu membagi waktu dengan baik, dia tetap membantu ibunya berjualan tapi hal itu tidak menggannggu proses belajarnya. Ia lewati hari demi hari bersama Lissa sementara Asih mewarnai harinya dengan lebih banyak belajar soal dan membuat target-target yang ingin diraihnya lain halnya dengan Lissa, sahabatnya ini tetap menjalankan obsesinya yakni membuat karya tulisnya ’49 Days’ versi dirinya, memang Lissa punya cita-cita sampingan sebagai penulis selain sebagai anggota DPR yang bisa menyalurkan aspirasi rakyatnya kelak.

Sampai H-7 menuju UN tiba, saat itu Asih dan Lissa tengah serius belajar di perpustakaan seusai pulang sekolah. Arsad yang datang dari arah pintu masuk, menghampiri mereka.
“Permisi, apa aku boleh gabung sama kalian? Tempat lainnya penuh?”, tanya Arsad pada mereka.
Lissa pun merasa tidak senang dengan kehadiran Arsad, dia pun balik bertanya, “Eh mau ngapain kesini? Penuh gimana tuh meja deket penjaga perpus masih kosong?”
“Iya tapi disana kurang terang, lagian aku juga ingin belajar bersama kalian. Ada soal-soal yang ingin aku tanyakan, nih?”, jelas Arsad pada Lissa.

“Tapi ya tetep saja…”, kata Lissa, saat ia tengah bicara tiba-tiba Asih pun memotongnya.
“Sudahlah Lis, maksud dia baik kok lagian kita kan harus berbagi dengan orang lain, dia kan juga punya hak disini. Kamu lupa dengan misimu?”, tanya Asih menyudutkan.
“Baiklah, kamu boleh duduk disini asalkan kamu gak bikin kami gak bisa belajar. Awas kau!”, jelas Lissa sedikit mengancam.

“Siap boss!”, jawab Arsad dengan sikap hormat.
Diskusi pun berjalan dengan sendirinya. Mereka terlihat menikmati waktu belajar hari itu, tak ada hal-hal yang dikhawatirkan Lissa tadi terjadi. Sampai perpustakaan mau tutup pun mereka masih asyik membahas soal-soal yang masih perlu mereka pelajari. Sehingga penjaga perpustakaan pun sedikit ketus menyuruh mereka segera mengakhiri belajar bersama waktu itu karena hari semakin larut. Akhirnya mereka pun mau tak mau harus mengakhirinya sampai disitu dan mereka membuat jadwal untuk melakukan belajar bersama lagi sampai UN pun tiba.

“Yaudah, sampai jumpa besok ya. Oh ya makasih banyak untuk hari ini. Kalian memang baik, tak seperti sangkaan temen-temen lain. Eh iya makasih juga ya Lis, dah ngijinin aku gabung sama kalian. Entahlah kalo tadi aku gak minta ajar sama kalian, bisa mati berdiri aku dirumah karna gak tau cara nyelesain soal-soal tadi, kalo di tempat les lebih sering aku gunakan untuk tidur jadi ya percuma saja”, jelas Arsad panjang dan lebar.

“Iya sama-sama. Sori tadi aku sempet emosi sama kamu. Okelah kamu boleh gabung sama kita kapanpun kamu mau dengan syarat kamu bener-bener mau belajar bukan yang lain”, terang Lissa.
Akhirnya mereka pun berpisah di depan gerbang, pulang ke rumah masing-masing dengan saling melempar senyum. Mereka menjalani sepekan menuju UN dengan belajar bersama secara kondusif, dari situlah keakraban Asih dan Lissa dengan Arsad terjalin, sekarang Lissa pun perlahan-lahan menghilangkan prasangka buruknya terhadap Arsad dan mulai melihat sisi baik dari teman lelakinya itu.

Sampai saat yang ditunggu pun tiba. Ujian Nasional sekarang sudah di depan mata, mereka harus berperang melawan kepesimisan diri mereka masing-masing dan maju ke medan perang dengan segala amunisi yang telah mereka siapkan jauh-jauh hari. Asih tak lupa sebelum berangkat ke sekolah tadi meminta doa restu kepada orangtuanya terutama ibunya dan juga meminta doa dari adik-adiknya. Di sekolah pun semua guru dan karyawan beserta murid sebelumnya telah menyelenggarakan doa bersama dan sebelum UN dimulai, kepala sekolah menyempatkan untuk memberikan pidatonya.

Sebelum Asih dan Lissa memasuki ruang ujian, Arsad menghampiri mereka dan memberikan semangat kepada mereka begitu juga sebaliknya. Akhirnya mereka pun harus berjuang secara mandiri untuk menaklukkan UNnya kali ini.

Tak terasa empat hari Ujian Nasional telah mereka lewati, saat bunyi bel selesai ujian terdengar pada mata pelajaran terakhir, di tengah lapangan terdengar sorak-sorai dari murid-murid kelas tiga SMP yang meluapkan ekspresi kelegaannya telah menyelesaikan tugas akhirnya di SMP. Asih dan Lissa pun turut serta dalam keramaian tersebut.

Hari demi hari seusai UN pun mereka lewati sambil berharap-harap cemas akan hasil yang akan mereka peroleh. Setelah UN selesai, murid-murid kelas tiga dibebastugaskan hanya saja mereka tetap datang ke sekolah untuk mendapat info-info terbaru. Sedangkan Asih dan Lissa pun mengalami perbincangan yang cukup serius untuk menentukan SMA yang ingin mereka masuki. Ternyata Asih harus menerima kenyataan yang tak pernah dia harapkan, Lissa berencana untuk melanjutkan sekolahnya di luar kota karena mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan ke Jakarta. Mendengar cerita Lissa tak bisa dipungkiri Asih pun meneteskan air mata karena dia harus berpisah dengan sahabat karibnya. Selama ini mereka selalu bersama dimana pun mereka berada.

Semenjak hari dimana Lissa menceritakan kenyataan pahit pada Asih, mereka jadi jarang bertemu sekarang. Itu bukan karena mereka sedang berselisih melainkan Lissa dan keluarganya sedang sibuk mempersiapkan kepindahannya. Dan Asih pun sibuk mengurus beasiswa yang dia dapatkan dari sebuah lembaga yang memberikan beasiswa kepada siswa yang berprestasi.

Setelah menunggu kurang lebih sebulan, hari pengumuman kelulusan pun tiba. Semua murid kelas tiga ditempatkan di lapangan dengan harap-harap cemas. Sementara wali murid berada di aula untuk menerima hasil UN anaknya, satu per satu wali murid keluar dari aula menghampiri anaknya dan memperlihatkan hasil yang anaknya peroleh. Sebelumnya telah diumumkan terlebih dahulu kalau di SMP Kusuma Bangsa semua siswa lulus dan nilai tertinggi di sekolah hanya saja belum disebutkan siapa pemilik nilai tertinggi tersebut.

Di lapangan tersebut terlihat pemandangan yang penuh dengan macam-macam perasaan yang terekspresikan, ada yang menangis, senang, kalem, kecewa, dan sebagainya. Arsad pun telah memperoleh hasilnya, dia berbagi suka pada teman-temannya yang memperoleh hasil yang maksimal atas usaha mereka. Sedangkan, di sudut lapangan basket Lissa dan Asih masih dengan wajah tegang dan sedari tadi terus berkomat-kamit membaca doa menanti orangtuanya menghampiri mereka untuk menunjukkan hasil yang didapatkannya.

Arsad pun menghampiri Asih dan Lissa. Dia pun mengucapkan rasa terimakasihnya pada kedua sahabat ini yang telah membantunya berhasil meraih hasil yang bagus di UN itu. Dan, Arsad berharap hubungan diantara mereka masih dapat berjalan baik walaupun mereka sudah tidak akan satu sekolah lagi. Di tengah perbincangan hangat itu, terlihat orangtua Asih dan Lissa datang menghampiri mereka. Saat itu suasana menjadi terasa tegang kala Asih dan Lissa harus membuka sendiri hasil usaha mereka. Dan dengan perasaan yang campur aduk mereka berdua membuka amplop putih itu bersama-sama, tak lupa mereka mengucap bacaan basmallah dan pelan-pelan mereka membuka surat yang ada di dalamnya. Tiba-tiba perubahan ekspresi mereka terlihat dari wajahnya dan spontan mereka bersujud syukur. Yah, tak salah lagi mereka lulus dengan nilai terbaik yang mereka peroleh. Seketika, Lissa memeluk Asih tetapi disitu tangis kebahagiaan pun pecah. Mereka saling memeluk erat, sedangkan orangtua mereka dan Arsad hanya dapat memandang dengan wajah penuh senyuman.

Ditengah pelukan mereka, Asih setengah berbisik dan menahan isak tangisnya, “Lis, akhirnya aku dapat membuktikan pada diriku sendiri kalo aku masih mampu membanggakan orang-orang terkasihku. Alhamdulillah atas izin Allah Ta‘ala aku mampu menjadi yang terbaik. Aku tak menyangka dapat mematahkan anggapan orang-orang terhadapku selama ini. Terimakasih Lissa, sekali lagi terimakasih Lis atas bantuanmu padaku”, lanjutnya.

Disitu pun Lissa paham dengan maksud Asih, dia pun semakin erat memeluk Asih. Lissa pun lantas mengucapkan selamat pada Asih begitu pun Arsad dan teman-teman lainnya yang entah siapa yang mengomando, mereka datang mengerumini Asih. Asihlah peraih nilai tertinggi di sekolahnya itu berarti dia berhak mendapatkan beasiswa dari sekolahnya yang telah Kepala Sekolah janjikan sewaktu berpidato sebelum UN lalu. Namun, Lissa juga masuk dalam 5 besar peraih nilai UN terbaik dia pun juga mendapatkan hadiah pula ditambah ia juga mendapatkan hadiah dari lomba debatnya ditingkat provinsi lalu.

Asih dan Lissa saling memberikan selamat dan kenang-kenangan terakhir baginya sebelum mereka akan jarang untuk betatap muka. Disitu pulalah mereka saling berjanji untuk tetap bertanya kabar melalui surat dan tidak akan melupakan kenangan indah yang mereka alami dan juga 49 hari yang mereka buat. Untuk itu karya tulis yang Lissa buatlah menjadi kenang-kenangan terakhir sebelum berpisah sedangkan Asih memberikan sebuah album foto yang dia buat sendiri yang isinya foto-foto dari mereka kecil dulu sampai sekarang.

Tak lupa Asih mengucapkan rasa terimakasihnya pada para guru dan karyawan yang selama ini telah berperan banyak dalam kesuksesan yang Asih raih saat ini. Asih pun menghampiri ibunya dengan wajah berseri-seri kemudian memeluk dan mencium pipi kanan ibunya.
“Terimakasih Bu, atas kepercayaan dan doa yang tiada pernah terputus untukku selama ini”, kata Asih dengan memeluk Ibunya.
“Sama-sama nak, Ayah pasti bangga mengetahui hal ini dan Ibu bangga sekali padamu. Semoga adikmu kelak juga dapat dimudahkan jalannya juga”, jawab ibunya.
“Iya Bu, Amin”, jawab Asih dengan senyum yang tersimpul dari bibirnya.
Hari pengumuman kelulusan itu sekaligus menjadi hari terakhir Asih bertatap muka dengan sahabat tercintanya, Lissa. Dan sejak itulah harapan baru di keluarga Asih terlahir kembali. Asih mampu melanjutkan sekolahnya ke SMA yang dia cita-citakan dengan beasiswa satu tahun penuh yang dia peroleh dari sebuah lembaga ditambah beasiswa dari SMPnya itu sehingga mampu meringankan tanggungan orangtuanya.

Cerpen Karangan  :  Farah Rahmadani
Nama                    :  Farah Rahmadani

*Masih duduk dibangku SMA kelas  di SMAN 10 Fajar Harapan
Hobi : menulis, bersepeda, dengerin musik, dll.
tolong ya kak cantumkan penulisnya terimakasih ^_^
Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Hanya Di Sini™ - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger