Laporan Praktikum
LAPORAN PRAKTIKUM
PROSES PEMESINAN
|
logo |
OLEH :
NAMA : AZHARUL
NIM : 1104106010044
KELOMPOK : 12
JURUSAN : TEKNIK INDUSTRI
LABORATORIUM DASAR PROSES PRODUKSI FAKULTAS TEKNIK UNUVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM – BANDA ACEH
TAHUN 2013
KATA PENGANTAR
Terimakasih kepada tuhan yang maha esa yang telah membantu penyusun untuk menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Karena tanpa pertolongan tuhan yang maha esa penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini sengaja di buat penyusun untuk muenambah pengetahuan pembaca mengenai mesin bubut, jenis-jenis mesin bubut, cara kerja mesin bubut, nama-nama komponen mesin bubut, fungsi komponen, dan berbagai pembahasan tentang mesin bubut lainnya yang akan menambah wawasan pembaca mengenai mesin bubut. Penyusun mengambil isi pokok pembahasan dalam makalah ini dari berbagai sumber. Tetapi yang pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu menambah pengetahuan pembaca mengenai mesin bubut.
Penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada dosen/guru yang telah memberikan tugas kepada penyusun karena dengan tugas tersebut penyusun jadi lebih mengetahui mengenai mesin bubut. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan kepada pembaca, meskipun makalah ini ada kelebihannya dan kekurangannya penyusun mohon kritik dan saranya agar penyusun bisa memperbaikiya.
Darussalam, 10 juni 2013
Penulis
Azharul
Nim. 1104106010044
DAFTAR ISI
Kata pengantar i
Daftar isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Tujuan Umum 1
1.3 Tujuan Khusus 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Dasar 3
2.2 Prinsip kerja alat 3
2.2.1 Bagian-bagian utama mesin bubut konvensional 3
2.2.2 Kontrol utama mesin bubut berupa 4
2.2.3 Skala utama menghupkan dan mematikan mesin bubut 4
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Instalasi Pengujian 7
3.1.1 Persiapan sebelum membubut 7
3.1.2 Selama proses pembubutan 7
3.1.3 Setelah proses pembubutan 7
3.2 Alat dan Bahan 8
3.3 Langkah Pengerjaan 8
3.3.1 Pembuatan Gagang Palu 8
3.3.2 Selanjutnya adalah pembuatan ulir 9
3.3.3 Kemudian tahap selanjutnya adalah pembuatan tirus 9
3.3.4 Pembuatan Kepala Palu 10
BAB IV ANALISIS PERMASALAHAN 11
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan 12
4.2 Saran 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada saat sekarang ini, perkambangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah sangat pesat. Sehingga membutuhkan tenaga ahli untuk dapat menggunakan alat-alat teknologi tersebut. Praktikum pemesinan khususnya dalam pembubutan merupakan langkah awal untuk membuat mahasiswa agar dapat mengopersikannya alat industri. Karena tanpa ada campur tangan menusia maka alat-alat tersebut tidak dapat beroperasi atau bekerja dengan baik. Jadi praktikum ini sebagai langkah awal untuk membawa kita pada dunia ilmu pengetahuan dan teknologi dimana kita dapat melakukan berbagai pekerjaan baik itu dalam dunia Industri maupun dalam lingkungan masyarakat.
Di bidang industri, keadaan mesin bubut sangat berperan, terutama didalam industri permesinan. Misalnya dalam industri otomotif, mesin bubut berperan dalam pembuatan komponen-komponen kendaraan, seperti mur, baut,roda gigi, poros, tromol dan lain sebagainya.Penggunaan mesin bubut juga dapat dihubungkan dengan mesin lainseperti mesin bor ( drilling machine ), mesin gerinda ( grinding machine), mesinfrais ( milling machine ), mesin sekrap ( shaping machine), mesin gergaji ( sawing machine) dan mesin-mesin yang lainnya. Namun ada salah satu hal yang paling penting dari sebuah mesin adalah perawatannya. Perawatan dilakukan untuk menjaga kondisi mesin dalam keadaan yang baik. Sebelum kegiatan perawatan dilaksanakan, diperlukan kegiatan perencanaan perawatan terlebih dahulu. Ini bertujuan agar proses perawatan berjalan sesuai rencana.
1.2 Tujuan Umum
Tujuan mempelajari ilmu proses Manufaktur terutama dalam penggunaan mesin Bubut, diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman terhadap teknologi yang sangat erat kaitannya dalam bidang industri. Selain itu juga dapat menambah kemampuan dalam mengoperasikan mesin Bubut dan membuat produk dengan kualitas yang baik.
1.3 Tujuan Khusus
Laporan Akhir Praktikum Proses Manufaktur mempunyai beberapa tujuan khusus. Berikut ini merupakan tujuan khusus pembuatan laporan akhir ini.
1. Mempelajari dan mengoperasikan mesin bubut mesin bubut dan menguasai cara pembubutan dengan benar.
2. Membuat gambar selama proses kerja berlangsung dengan standar gambar teknik yang benar.
3. Membuat Palu berbahan besi
4. Mahasiswa dapat mengetahui komponen-komponen mesin bubut serta fungsinya.
5. Mahasiswa dapat memahami dan mengerti gambar kerja.
6. Mahasiswa dapat melaksanakan kerja dengan efisien (apa yang dikerjakan terlebih dahulu).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Dasar
Mesin Bubut adalah suatu mesin perkakas yang digunakan untuk memotong benda yang diputar. Bubut sendiri merupakan suatu proses pemakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan dengan cara memutar benda kerja kemudian dikenakan pada pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. Gerakan putar dari benda kerja disebut gerak potong relatif dan gerakkan translasi dari pahat disebut gerak umpan.
Pekerjaan-pekerjaan yang umumnya dikerjakan oleh mesin bubut antara lain:
1. Membubut luar
2. Membubut dalam
3. Membubut tirus
4. Membuat Permukaan
5. Memotong
6. Membuat ulir
2.2 Prinsip kerja alat
Poros spindel akan memutar benda kerja melalui piringan pembawa sehingga memutar roda gigi pada poros spindel. Melalui roda gigi penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros ulir. Oleh klem berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi gerak translasi pada eretan yang membawa pahat. Akibatnya pada benda kerja akan terjadi sayatan yang berbentuk ulir.
2.2.1 Bagian-bagian utama mesin bubut konvensional
Bagian-bagian utama pada mesin bubut konvesional pada umumnya sama walaupun merk atau buatan pabrik yang berbeda, hanya saja terkadang posisi handel/tuas, tombol, table penunjukan pembubutan dan rangkaian penyusunan roda gigi untuk berbagai jenis pembubutan letak/posisinya berbeda. Demikian juga cara pengoperasianya karena memilki fasilitas yang sama juga tidak jauh berbeda. Berikut ini akan diuraikan bagian-bagian utama mesin bubut konvesional (biasa) yang pada umumnya dimilki oleh mesin tersebut.
1. Gear Box dan Quick Change Gear Box
Adalah bagian dari system transmisi pada mesin bubut, berupa susunan roda gigi yang berfungsi untuk memindahkan daya dan putaran dari motor penggerak dan mengatur kecepatannya sebelum diteruskan ke spindle. Quick Change Gear Box atau sering juga disebut dengan feed box berfungsi untuk mentransmisikan daya dan putaran dari gear box sebelum diteruskan ke mekanisme pamakanan/apron. Gear Box dan Quick Change Gear Box terletak pada Head Stock.
2. Apron
Apron merupakan empat susunan roda gigi yang menggerakkan Carriage.
3. Carriage
Merupakan meja penggerak pahat dan terletak diatas apron.
4. Chuck
Merupakan bagian mesin bubut yang berfungsi untuk memegang benda kerja agar tidak bergoyang saat pembubutan.
5. Tailstock
Tailstock terletak berhadapan dengan spindle. Berfungsi untuk menahan ujung benda kerja saat pembubutan dan juga dapat digunakan untuk memegang tool pada saat pengerjaandrilling, reaming, dan tapping.
6. Tool Post
Merupakan bagian mesin bubut yang berfungsi untuk memegang pahat.
7. Compound rest
Digunakan untuk menopang tool post pada bermacam-macam posisi.
2.2.2 Kontrol utama mesin bubut berupa :
1. Spindle Change Switch
2. Spindle Change Lever A
3. Spindle Change Lever B
No 1,2,3 digunakan untuk merubah kecepatan putar (mrngatur kecepatan pada speed Gear Box). Pengaturan kecepatan dilakukan dengan merubah posisi handle-handlenya.
2.2.3 Saklar utama untuk menghidupkan atau mematikan mesin bubut.
1. Coolant Pump Switch
Untuk menghidupkan pompa cooling oil.
2. Spindle Forward-Stop-Reserve Lever.
Berfungsi untuk merubah putaran dari feed rod.
3. Compound Rest Feed Lever
Untuk menggerakkan compound rest tanpa menggerakkan carriage.
4. Carriage Longitudinal Feed Handwheel
Engkol yang berfungsi untuk menggerakkan carriage secara manual dalam arah longitudinal.
5. Split Nut Lever
Menggerakkan split nut yang nantinya akan memutar lead screw.
6. Saddle Lock Screw
Mengunci saddle agar tidak bergerak dan dalam keadaan stabil.
7. Longitudinal and Crosws Power Feed Lever
Menjalankan pembubutan otomatis dan dapat menggerakkan carriage dalam arah longitudinal maupun melintang.
8. Tailstock Set Over Screw
Untuk menyetel kedudukan tailstock yang biasanya dilakukan pada pembubutan tirus.
9. Tailstock Quick Transverse Handwheel
Menggerakkan ujung dari tailstock biasanya dilakukan pada pembubutan tirus.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Instalasi Pengujian
3.1.1 Persiapan sebelum membubut :
1. Periksa dan persiapkan alat dan bahan yang akan dipergunakan.
2. Pasang pahat yang akan digunakan pada tool post, posisikan tepat pada center.
3. Ukur dimensi benda kerja sebelum dibubut.
4. Pasang benda kerja pada chuck dengan bantuan kunci chuck dan disenterkan.
5. Pilih kecepatan putar spindle yang sesuai dengan benda kerja.
6. Nyalakan mesin bubut.
7. Tentukan titik nol dengan menyinggungkan pahat pada benda kerja hingga benda kerja tergores sedikit.
8. Kerjakan apa yang harus dibubut terlebih dahulu (pilih bagian yang paling mudah dahulu).
9. Lakukan proses membubut sesuai gambar benda kerja yang direncanakan.
3.1.2 Selama proses pembubutan :
1. Ratakan ujung benda kerja.
2. Matikan mesin saat hendak mengganti kecepan atau mengganti posisi pahat.
3. Untuk awal pembubutan lakukan secara manual untuk menghemat waktu dan saat telah mendekati dimensi yang diinginkan lakukan pembubutan secara otomatis untuk hasil yang benda kerja halus.
3.1.3 Setelah proses pembubutan :
1. Matikan mesin bubut.
2. Lepaskan benda kerja dari chuck.
3. Bersihkan mesin dari sayatan-sayatan besi bekas proses bubutan.
4. Berikan lebel atau nama kelompok pada hasil benda kerja dan kumpulkan ke asisten.
5. Bereskan alat-alat yang telah digunakan pada proses membubut.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
Alat :
1. Mesin bubut 7. Kaca mata
2. Pahat bubut 8. Alat tulis (mencatat pengerjaan produk)
3. Kunci pas 9. kunci chuck
4. Jangka sorong
5. Gambar Palu
6. Mistar
Bahan :
1. Untuk gagang palu panjang nya 280 mm , diameter gagang 22,3 mm,
2. kepala palu panjangnya 90 mm, diameter kepala 31,6 mm.
3.3 Langkah Pengerjaan
Berikut langkah kerja dalam proses membubut :
3.3.1 Pembuatan Gagang Palu :
1. Untuk gagang palu panjang nya 280 mm , kepala palu panjangnya 90 mm, diameter gagang 22,3 mm, diameter kepala 31,6 mm.
2. Pada tahap awal ini kita mengerjakan pengecilan diameter gagang dari 22,3 mm menjadi 15 mm , dengan kecepatan putar 512 rp/m.
3. Yang pertama kita lakukan pemotongan dengan kedalaman pemakanan 2 mm sehingga diameternya menjadi 20,9 mm.
4. Kemudian kita tambah kedalaman makan menjadi 4mm sehingga diameter menjadi 19,00 mm
5. Kemudian kita tambah lagi kedalaman pemakanan nya menjadi 6 mm sehingga diameter menjadi 17 mm.
6. Kemudian kita tambah lagi kedalaman pemakanan menjadi 7 mm sehingga diameter menjadi15,9 mm.
7. Karena diameternya masih di atas 15 mm maka harus buat pemakanan lagi dengan kedalaman pemakanan menjadi 7,4 mm sehingga menjadi 15,3 mm.
8. Kemudian dilakukan finising dengan kecepatan putar 760 rpm dengan kedalaman potong ditambah menjadi 7,8 mm, sehingga diameter pas menjadi 15 mm.
3.3.2 Selanjutnya adalah pembuatan ulir.
1. Dengan benda masih tercekam pada spindle, pasang snei pada benda kerja dibagian yang akan dibuat ulir.
2. Dengan bantuan center drill supaya snei tidak bergerak kemana- mana, maka snei mulai untuk diputar hingga terbentuk ulir yang diinginkan.
3. Pada pembuatan ulir di butuhkan 6 part, yang jarak antara part satu dengan yang lainya adalah 10 mm dan panjang tiap partnya 90 mm.
3.3.3 Kemudian tahap selanjutnya adalah pembuatan tirus.
1. Langkah awal adalah mengukur panjangnya yaitu 16,5 mm, diameter 17,8 mm.
2. Kemudian mengatur besar sudut 2,5 mm.
3. Lalu kita lakukan pemotongan dengan kedalaman potong 2 mm sehingga diameternya menjadi 17,8 mm.
4. Seterusnya kita lakukan pemotongan dengan kedalaman potong 3,320 mm sehingga diameternya menjadi 15,75 mm.
5. Seterusnya kita lakukan pemotongan dengan kedalaman potong 4,310 mm sehingga diameternya menjadi 13,5 mm.
6. Seterusnya kita lakukan pemotongan dengan kedalaman potong 4,770 mm sehingga diameternya menjadi 12,7 mm.
7. karena sisanya masih belum mencukupi 12 mm maka harus di potong lagi 5,270 mm, sehingga menjadi 12 mm.
3.3.4 Pembuatan Kepala Palu :
1. Mengukur panjang kepala yaitu 92mm , diameter 32 mm.
2. Kemudian kita perkecilkan diameternya dengan kedalamaman potong 1,015, diameternya menjadi30,7 mm.
3. Kemudian kita perkecilkan diameternya dengan kedalaman potong 2,075, diameternya menjadi 28,3 mm.
4. Terakhir kita potong 3,040 mm sehingga diameternya menjadi 26 mm sesuai yang diinginkan.
5. Setelah itu langkah selanjutnya adalah membuat tirus dengan sudut 11,3o maka didapat diameter dalamnya adalah 20 mm.dengan besar diameter kepala atas dan bawah 26 mm.
BAB IV
ANALISIS PERMASALAHAN
Selama proses pengerjaan, dapat terjadi beberapa permasalahan baik pada mesin maupun pada benda kerja atau pada mata pahat. Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang dapat terjadi:
1. Mata pahat terlalu cepat tumpul. Hal ini disebabkan karena pemakanan yang terlalu dalam sehingga mata pahat menjadi cepat tumpul. Penceganhannya adalah dengan cara melakukan pemakanan sedikit demi sedikit. Jika mata tumpul, ganti dengan mata yang lebih tajam.
2. Benda kerja menjadi tidak stabil. Kemungkinannya adalah, benda kerja menerima terlalu banyak panas selama proses pemakanan yang terlalu dalam atau karena pengikatan benda kerja pada chuck yang kurang baik. Untuk mencegah terjadinya masalah ini, pastikan benda kerja telah terikat dengan kuat dan berada dalam posisi paling stabil pada chuck, dan jangan melakukan pemakanan yang dalam sekaligus.
3. Cooling oil tidak dapat keluar. Hal ini disebabkan karena jumlah coolant yang terlalu sedikit di dalam coolant tank. Cara mengatasinya adalah dengan menambahkan air ke dalam tank agar dapat dihisap kembali ke atas.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Menghitung kecepatan potong pada saat akan melakukan pembubutan sangat penting, agar benda kerja selesai sesuai dengan waktunya
2. Mengetahui kedalaman potong pada saat melakukan pembubutan sangat penting, agar operator mengetahui berapa ketebalan bend akerja yang akan dibubut.
3. Benda kerja akan kasar apabila pahat yang digunakan tidak tajam.
5.2 Saran
1. Kunci benda kerja dengan kuat sebelum melakukan pembubutan.
2. Dalam melakukan pembubutan jangan gegabah agar benda kerja sesuai dengan yang diinginkan.
3. Gunakan sebaik mungkin waktu yang diberikan, agar benda kerja selesai sesuai dengan waktunya.